Puasa bagi Ibu Hamil, Aman atau Berisiko?

Puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi dalam Islam. Namun, bagi ibu hamil, keputusan untuk berpuasa perlu dipertimbangkan secara matang. Kehamilan membuat tubuh bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, sebelum menjalankan puasa, penting bagi ibu hamil memahami kondisi kesehatan diri, potensi risiko, serta pertimbangan medis yang menyertainya.
Kebutuhan Nutrisi dan Cairan Ibu Hamil
Selama masa kehamilan, tubuh membutuhkan asupan energi, protein, vitamin, mineral, dan cairan dalam jumlah lebih besar. Nutrisi tersebut berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin. Pola makan yang terbatas selama puasa berpotensi membuat asupan nutrisi dan cairan tidak tercukupi, sehingga meningkatkan risiko kekurangan gizi dan dehidrasi apabila tidak diatur dengan baik.
Risiko Dehidrasi dan Penurunan Kadar Gula Darah
Salah satu risiko utama puasa pada ibu hamil adalah dehidrasi, terutama jika cuaca panas atau durasi puasa cukup panjang. Kondisi ini dapat menyebabkan keluhan seperti pusing, lemas, hingga berkurangnya aliran darah yang membawa nutrisi ke janin. Selain itu, puasa juga dapat memicu penurunan kadar gula darah. Pada ibu hamil, kondisi ini lebih mudah terjadi karena glukosa digunakan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ibu, tetapi juga janin.
Kondisi Kehamilan yang Tidak Dianjurkan Berpuasa
Tidak semua ibu hamil disarankan untuk berpuasa. Beberapa kondisi medis dapat membuat puasa menjadi tidak aman, seperti diabetes gestasional yang membutuhkan pengawasan ketat kadar gula darah, anemia atau kadar hemoglobin rendah, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, serta kondisi lain yang memerlukan pola makan khusus atau konsumsi obat secara teratur. Dalam keadaan tersebut, dokter umumnya menyarankan ibu hamil untuk tidak berpuasa demi menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Tanda Bahaya Saat Berpuasa
Jika ibu hamil memutuskan untuk berpuasa, penting untuk memperhatikan tanda-tanda peringatan yang mengharuskan puasa segera dihentikan. Di antaranya adalah jumlah urine yang sangat sedikit atau berwarna gelap, pusing dan rasa lemas yang berkepanjangan, serta perubahan gerakan janin yang terasa berkurang. Kondisi ini menandakan bahwa tubuh tidak mampu mempertahankan puasa tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
Dampak Puasa terhadap Janin Berdasarkan Kajian Ilmiah
Hasil penelitian mengenai puasa dan kehamilan menunjukkan temuan yang beragam. Sejumlah studi menyatakan bahwa puasa tidak selalu berhubungan langsung dengan peningkatan risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah. Namun, kualitas dan kecukupan nutrisi selama sahur dan berbuka tetap memegang peranan penting dalam mendukung hasil kehamilan yang optimal.
Puasa saat hamil tidak selalu dilarang, tetapi juga tidak dianjurkan untuk semua ibu hamil. Puasa dapat dilakukan apabila ibu berada dalam kondisi sehat, tidak memiliki komplikasi kehamilan, serta mampu memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan dengan baik dan tetap sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter. Bagi ibu hamil yang memiliki kondisi medis tertentu atau merasa tubuhnya tidak kuat, menunda puasa dan menggantinya sesuai ketentuan agama merupakan pilihan yang lebih aman demi kesehatan ibu dan janin.
Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:
081336865595
Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya
