fbpx
Senin - Jumat08:00-14:00Sabtu08:00-13:00Call us 081336865595
Category filter:AllKesehatanTipsUncategorized
No more posts

Artikel

Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda dan keluarga
signum42.jpeg
30/Mar/2022

Persalinan yang terlalu lama bukan hanya dapat menguras tenaga, tapi juga berbahaya bagi kondisi ibu dan janin di dalam kandungan. Proses persalinan yang macet ini bisa menyebabkan ibu kelelahan, serta meningkatkan risiko bayi mengalami gawat janin, cedera, dan infeksi.

Persalinan normal dapat memakan waktu sekitar 12-18 jam pada ibu yang baru pertama kali melahirkan dan bisa beberapa jam lebih cepat pada ibu yang sudah melahirkan lebih dari sekali.

Persalinan terlalu lama didefinisikan sebagai persalinan yang berlangsung lebih dari 20 jam untuk ibu yang melahirkan pertama kali. Sedangkan untuk ibu yang sudah melahirkan lebih dari sekali, persalinan disebut terlalu lama jika berlangsung selama lebih dari 14 jam.

Penyebab Proses Persalinan Menjadi Lebih Lama

Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan proses persalinan menjadi lebih lama, yaitu:

  • Penipisan leher rahim atau pembukaan jalan lahir yang berlangsung lambat.
  • Kontraksi yang muncul tidak cukup kuat.
  • Jalan lahir terlalu kecil untuk dilewati bayi, atau bayi terlalu besar untuk melewati jalan lahir tersebut. Kondisi ini disebut juga CPD (cephalopelvic disproportion).
  • Posisi bayi tidak normal, misalnya sungsang atau melintang.
  • Melahirkan anak kembar.
  • Masalah psikologis yang dialami ibu, seperti stres, takut, atau rasa khawatir berlebihan.

Kemungkinan Buruk yang Bisa Menimpa Bayi

Waktu persalinan yang berlangsung lebih lama berpotensi membahayakan kesehatan bayi. Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat proses persalinan yang terlalu lama:

1. Baykekurangan oksigen di dalam kandungan

Proses persalinan yang terlalu lama bisa membuat bayi kekurangan oksigen. Semakin lama bayi kekurangan oksigen, maka akan semakin parah efek yang akan ia alami.

Beberapa hal yang mungkin dialami bayi usai persalinan bila ia kekurangan oksigen adalah kesulitan bernapas, detak jantung lemah, otot lemas atau lunglai, dan kerusakan organ, terutama otak.

Bila kondisi ini sudah parah, bayi mungkin bisa mengalami gangguan pada otak, jantung, paru-paru atau ginjal yang berpotensi membahayakan nyawanya.

2. Detak jantungnya tidak normal

Persalinan yang terlalu lama bisa membuat detak jantung bayi tidak normal. Detak jantung normal bayi yang baru lahir berkisar antara 120-160 denyut per menit. Jika detak jantung kurang dari 120 atau lebih dari 160 per menit, maka kondisi ini dapat dianggap tidak normal.

Detak jantung janin yang terlalu pelan atau cepat ini bisa jadi menandakan bahwa ia mengalami gawat janin.

3. Gangguan napas pada bayi

Proses persalinan yang lama bisa membuat bayi stres dan mengeluarkan tinja pertamanya atau mekonium. Mekonium ini bisa bercampur dengan cairan ketuban dan terhirup oleh bayi, sehingga masuk ke dalam paru-parunya. Bila hal ini terjadi, bayi bisa mengalami gangguan pernapasan.

4. Infeksi rahim

Proses persalinan yang terlalu lama bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi di dalam rahim atau ketuban yang disebut korioamnionitis. Kondisi ini terjadi ketika bakteri telah menginfeksi kantong dan cairan ketuban yang mengelilingi janin.

Air ketuban yang terinfeksi merupakan kondisi serius yang bisa membahayakan kondisi janin maupun ibu.

Selain berbahaya bagi janin, persalinan terlalu lama juga dapat membahayakan kondisi ibu. Persalinan terlalu lama ini bisa menyebabkan ibu lebih berisiko mengalami perdarahan pascapersalinan dan ruptur perineum.

Untuk membantu mempercepat proses persalinan yang terlalu lama, dokter mungkin akan mengeluarkan bayi dengan alat bantu persalinan, seperti vakum atau forcep, bila kepala bayi sudah sampai di luar vagina. Sebelum melakukan tindakan tersebut, dokter akan melakukan episiotomi untuk memperlebar jalan lahir bayi.

Jika kepala janin belum turun melewati leher rahim dan persalinan sudah berlangsung terlalu lama, maka dokter mungkin akan menyarankan ibu untuk melakukan induksi peralinan atau bisa juga melahirkan dengan operasi caesar jika proses induksi gagal.

Tidak hanya selama kehamilan, proses persalinan pun perlu dipersiapkan sebaik mungkin. Dengan persiapan yang baik, ibu hamil maupun dokter dapat mengantisipasi kesulitan yang mungkin terjadi selama proses persalinan, termasuk persalinan yang berlangsung lebih lama.

 


signum41.jpg
29/Mar/2022

Dalam kegiatan sehari-hari, cukup sering kita melihat ibu hamil sedang menggendong bayi atau anak balita. Meski bobot tubuh anak kecil dianggap tidak terlalu berat, menggendong anak saat hamil kadang tetap saja bikin khawatir. Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah hal tersebut akan memengaruhi kondisi ibu hamil?

Menggendong anak saat hamil sebenarnya tidak masalah pada kondisi-kondisi tertentu, terutama pada awal kehamilan. Dalam banyak kejadian, ibu hamil dapat mengangkat anak dengan berat 13 kg hingga ia sudah tidak merasa kuat atau nyaman. Biasanya kondisi tidak nyaman tersebut muncul pada usia kehamilan 4-5 bulan.

Meski begitu, perlu diperhatikan lagi beberapa aspek lainnya. Selain usia kehamilan, berat anak dan kondisi ibu juga harus dipertimbangkan. Ketika kehamilan semakin besar, ibu hamil tidak dianjurkan untuk sering menggendong anak karena dapat menyebabkan tekanan pada perut.

Selain itu, tidak dianjurkan pula menggendong anak dengan berat badan lebih dari 13 kg. Beban yang terlalu besar dapat membahayakan ibu hamil, apalagi bila diangkat dalam jarak jauh.

Beberapa bahaya menggendong anak saat hamil yang mungkin terjadi adalah risiko keguguran, pecah ketuban, terlepasnya plasenta dari rahim, atau kelahiran prematur.

Kondisi Ibu yang Dilarang Menggendong Anak

Pada kondisi tertentu, mengangkat anak saat mengandung tidak dianjurkan. Beberapa contoh kondisinya yaitu:

  • Memiliki riwayat keguguran berulang karena kelemahan rahim (rahim inkompeten)
  • Hamil bayi kembar
  • Hamil dengan risiko tinggi seperti posisi plasenta di bawah
  • Riwayat perdarahan dari jalan lahir
  • Ibu dengan asma, tekanan darah tinggi, varises vagina, atau wasir

Hal-hal tersebut dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, atau masalah kesehatan lainnya pada ibu hamil.


signum40.jpg
28/Mar/2022

Setiap Ramadan seluruh umat Islam diwajibkan untuk menjalani ibadah puasa. Namun, ada beberapa golongan yang diberikan keringanan untuk tidak melakukan puasa, beberapa di antaranya adalah wanita hamil dan wanita yang sedang menyusui. Bagaimana jika wanita hamil tetap ingin melakukan ibadah puasa?

Selama ibu dan kandungannya dinyatakan sehat oleh dokter, ibu hamil diperbolehkan untuk melakukan puasa. Asalkan saat sahur dan berbuka ibu hamil harus memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ibu dan kandungannya.

Perhatikan Pola Makan Saat Sahur dan Berbuka

Saat sahur dan berbuka, ibu hamil harus tetap memperhatikan pola makan yang baik bagi ibu dan kandungan. Pilih makanan yang mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, vitamin, dan mineral. Dengan mengonsumsi makanan yang mengandung gizi tersebut, kebutuhan gizi bayi akan terpenuhi.

Perlu diingat juga untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan yang manis. Memang makanan manis bisa membantu meningkatkan kadar gula yang turun pada tubuh akibat berpuasa. Namun, pada saat kamu mengonsumsi makanan manis secara berlebihan, ini juga bisa membuat kadar gula pada tubuh kembali menurun dengan cepat.

Sebaiknya kebiasaan berbuka dengan yang manis, bagi ibu hamil, diganti dengan makanan yang memiliki manis alami, misalnya dari buah-buahan. Selain memiliki manis alami, beberapa buah juga memiliki kandungan air yang cukup tinggi, sehingga bisa menjauhkan tubuh dari dehidrasi.

Setelah berpuasa kurang lebih 12 jam, sebaiknya selama waktu berbuka ibu banyak mengonsumsi air putih. Selain sehat untuk janin, ibu juga akan terhindar dari bahaya dehidrasi. Jangan lupa konsumsi vitamin atau susu hamil saat sahur dan berbuka, sehingga bisa membantu menjaga kesehatan tubuh ibu dan janin yang ada di kandungan.

Ibu Hamil yang Tidak Diperbolehkan Puasa

Dalam beberapa kasus ibu hamil tidak diperbolehkan untuk menjalankan ibadah puasa, di antaranya:

1. Ibu Hamil Pengidap Diabetes Melitus

Ibu hamil dengan diabetes harus menjalani pola hidup yang cukup baik agar tekanan gula darah tetap stabil. Selain untuk menjaga gula darah yang stabil, ibu hamil yang mengidap diabetes biasanya harus mengonsumsi obat secara teratur dan mengatur pola makan sesuai dengan jadwal yang disarankan oleh dokter.

2. Mengeluarkan Flek atau Pendarahan

Pada saat sedang mengalami flek atau pendarahan, disarankan ibu hamil tidak melanjutkan puasanya. Dikhawatirkan pendarahan akan semakin parah jika ibu hamil tetap melakukan puasa. Selain pendarahan yang semakin parah, perkembangan dan kesehatan janin juga dikhawatirkan akan mengalami gangguan.

3. Gangguan Sistem Pencernaan

Jika ibu hamil sedang mengalami penyakit yang berhubungan dengan pencernaan, misalnya maag, ibu disarankan untuk tidak melakukan puasa. Ibu hamil yang memaksakan diri untuk puasa ditakutkan akan memperparah penyakit maag yang dialami. Tidak hanya untuk kesehatan ibu hamil saja, penyakit maag nyatanya juga bisa berbahaya untuk kesehatan janin.

4. Ibu Hamil yang Mengalami Dehidrasi

Rata-rata ibu hamil pada kehamilan trimester pertama akan mengalami morning sickness. Ternyata morning sickness bisa menyebabkan dehidrasi pada ibu hamil. Sebab, muntah dengan intensitas yang cukup sering dapat membuat cairan dalam tubuh terbuang, sehingga menyebabkan dehidrasi. Sebaiknya, ibu yang mengalami dehidrasi harus sering mengonsumsi air atau makanan yang banyak mengandung air.


signum39.jpg
25/Mar/2022

Nyeri ulu hati saat hamil merupakan salah satu keluhan yang umum terjadi. Biasanya, nyeri ulu hati muncul setelah makan atau sebelum tidur. Jika tidak diatasi dengan baik, kondisi ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas ibu hamil.

Banyak ibu hamil yang mungkin sering mengalami nyeri ulu hati. Kondisi ini ditandai dengan sensasi perih atau panas di bagian tengah dada yang bisa berlangsung selama beberapa menit. Biasanya nyeri ulu hati saat hamil terjadi akibat perubahan kadar hormon progesteron.

Tingginya kadar hormon progesteron saat hamil dapat membuat katup lambung menjadi lebih lemah, sehingga asam lambung menjadi lebih mudah untuk naik kembali ke kerongkongan (refluks).

Cara Meredakan Nyeri Ulu Hati Saat Hamil

Nyeri ulu hati saat hamil sebenarnya bisa dialami di usia kehamilan berapa pun, tetapi lebih sering terjadi di kehamilan trimester kedua dan ketiga. Selain karena hormon, nyeri ulu hati yang terjadi di trimester ketiga biasanya juga disebabkan oleh ukuran bayi yang semakin membesar dan mendesak perut.

Untuk meredakan nyeri ulu hati, ada beberapa cara yang bisa Bumil lakukan, antara lain:

1. Makan dengan porsi lebih sedikit, tetapi lebih sering

Untuk mencegah perut kembung dan meringankan gejala nyeri ulu hati saat hamil, Bumil disarankan untuk makan dalam porsi yang lebih sedikit tetapi sering. Jadi, alih-alih makan 3 kali sehari, usahakan makan 6 kali dalam porsi yang sedikit. Pasalnya, makan sedikit demi sedikit akan lebih mudah dicerna tubuh.

2. Konsumsi makanan dengan tekstur lunak atau cair

Saat mengalami nyeri ulu hati, sebaiknya Bumil lebih banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang lunak atau cair dengan kandungan nutrisi yang padat, seperti sup, smoothieprotein shake, puding, bubur, nasi tim, sereal, atau yogurt. Jenis makanan ini akan lebih mudah untuk dicerna oleh lambung.

3. Hindari makanan pemicu naiknya asam lambung

Bumil sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang bisa memicu naiknya asam lambung, yaitu:

  • Makanan asam dan pedas, seperti jeruk, nanas, tomat, bawang merah, dan bawang putih
  • Minuman bersoda dan beralkohol
  • Minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan cokelat
  • Makanan yang digoreng dan berlemak tinggi

4. Perhatikan posisi duduk saat makan

Untuk meringankan tekanan dari perut dan membantu meredakan nyeri ulu hati saat hamil, disarankan juga untuk makan dengan posisi duduk tegak dan hindari posisi bungkuk, berbaring, atau setengah berbaring hingga 1–3 jam setelah makan.

5. Gunakan pakaian longgar dan nyaman

Menggunakan baju hamil yang longgar dan nyaman bisa membuat Bumil terhindar dari rasa sesak. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari menggunakan pakaian yang ketat di bagian perut dan pinggang.

6. Tinggikan posisi kepala saat tidur

Cara lain yang mudah dilakukan untuk meredakan nyeri ulu hati saat hamil adalah posisi tidur Bumil diatur sedemikian rupa agar kepala dan bahu berada jauh lebih tinggi dari kaki. Cara ini bisa membantu asam lambung tetap turun dan memperlancar pencernaan.

Nyeri ulu hati saat hamil umumnya masih termasuk kondisi yang ringan hingga sedang. Namun, jika nyeri ulu hati tak kunjung membaik meski Bumil sudah melakukan hal-hal di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan agar diberikan penanganan yang aman dan sesuai penyebabnya.


signum38.jpg
23/Mar/2022

Untuk mempertahankan dan menjaga posisinya, rahim disangga oleh jaringan ikat yang disebut ligamen. Pada ibu hamil, pertambahan ukuran rahim dapat membuat ligamen ini menegang, sehingga muncul rasa nyeri pada perut bawah. Nyeri perut bawah ini lebih sering terjadi pada kehamilan pertama.

Nyeri yang biasanya berlangsung beberapa detik ini akan semakin terasa jika Bumil melakukan gerakan mendadak, misalnya tiba-tiba berdiri, tertawa, batuk, bersin, ataupun berguling di tempat tidur. Meski hanya berlangsung selama beberapa detik atau menit, nyeri perut bawah biasanya akan muncul secara berulang.

Meredakan Nyeri Perut Bagian Bawah

Umumnya nyeri perut bagian bawah dapat Bumil tangani sendiri di rumah. Cobalah terapkan beberapa langkah di bawah ini untuk meredakannya:

1. Olahraga teratur

Selain melakukan yoga untuk ibu hamil, Bumil juga dapat melakukan olahraga ringan, misalnya berjalan santai di sekitar rumah. Lakukan juga peregangan, misalnya dengan posisi berlutut dan menungging selama beberapa detik atau beberapa menit.

Namun perlu diingat, beberapa gerakan olahraga justru dapat memperparah sakit perut bagian bawah. Oleh karena itu, berkonsultasilah dahulu dengan dokter untuk mengetahui gerakan yang aman dilakukan.

2. Gunakan kompres hangat

Untuk meredakan rasa sakit, Bumil dapat menempatkan kompres hangat pada bagian bawah perut. Caranya adalah dengan menempelkan handuk yang sudah dicelupkan ke air hangat, ke bagian yang terasa nyeri.

Bumil juga bisa mengompres bagian bawah perut dengan botol plastik yang diisi air hangat dan dibungkus kain atau handuk. Namun, jangan sampai suhunya terlalu panas ya, Bumil, karena berisiko membahayakan janin.

3. Konsumsi obat pereda rasa sakit

Jika perlu, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui apakah Bumil boleh mengonsumsi obat pereda nyeri. Jangan sembarangan mengonsumsi obat tanpa resep dokter, karena obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil dapat menimbulkan efek samping pada janin di dalam kandungannya.

4. Lakukan perubahan untuk beradaptasi

Jika rasa nyeri muncul saat Bumil berguling ke sisi tempat tidur untuk bangun, cobalah untuk bergerak dengan lebih perlahan. Selain itu, saat akan bersin atau batuk, membungkuklah sedikit untuk mengurangi tarikan pada ligamen di sekitar rahim.

Namun jika nyeri perut bawah dirasa sangat mengganggu, tidak kunjung membaik dalam waktu beberapa jam, atau tidak bisa ditangani sendiri, Bumil disarankan untuk segera memeriksakannya ke dokter. Apalagi jika rasa nyeri ini disertai:

  • Demam
  • Perdarahan dari vagina
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Susah berjalan

Meskipun nyeri dapat reda dengan penanganan secara mandiri, Bumil tetap perlu memeriksakan diri ke dokter. Bisa jadi dokter menemukan bahwa nyeri perut bawah yang Bumil alami adalah gejala dari kondisi yang lebih serius, seperti kehamilan ektopik, hernia, gangguan plasenta, usus buntu, atau infeksi saluran kemih.


signum37.jpg
18/Mar/2022

Usia kehamilan trimester pertama menjadi fase yang rentan. Berbagai masalah kesehatan bisa terjadi, termasuk keguguran. Memenuhi kebutuhan nutrisi dari ragam makanan penguat kandungan pun jadi penting.

Penting bagi bunda hamil mengetahui pola hidup sehat terutama di trimester pertama. Sebab di waktu ini risiko masalah kesehatan cukup tinggi.

Keguguran saat awal kehamilan bisa disebabkan oleh infeksi, kelainan kromosom, gangguan pembekuan darah, atau masalah pada rahim.

Nah, konsisten makan makanan bergizi seimbang, olahraga yang tepat, menghindari alkohol dan rokok diketahui dapat membantu menguatkan dan mempertahankan kehamilan.

Makanan penguat kandungan untuk trimester pertama

seperti disebutkan sebelumnya, konsumsi makanan dengan nutrisi seimbang menjadi penting untuk bunda hamil di trimester pertama. Selain nutrisi, jangan lupa perhatikan juga faktor kebersihan dan kematangan makanan, ya.

Nah, apa saja ragam makanan penguat kanungan yang baik dikonsumsi saat trimester pertama? Berikut ulasannya:

1. Susu dan produk olahannya

Selama kehamilan, Bunda perlu mengonsumsi protein dan kalsium ekstra untuk memenuhi kebutuhan janin yang sedang tumbuh. Selain susu, produk olahannya yang bisa dipilih termasuk keju dan yoghurt.

Olahan susu mengandung dua jenis protein berkualitas tinggi: kasein dan whey. Selain itu, susu menjadi salah satu sumber kalsium, fosfor, vitamin B, magnesium, dan zinc dalam jumlah tinggi.

Yoghurt, terutama yoghurt Yunani atau Greek yoghurt, mengandung lebih banyak kalsium daripada kebanyakan produk susu lainnya. Ini pun bisa jadi pilihan makanan penguat kandungan yang baik untuk Bunda.

2. Ubi jalar

Dikutip dari Healthline, ubi jalar tidak hanya enak dan mudah diolah, tetapi juga kaya akan beta karoten. Ini merupakan senyawa yang diubah menjadi vitamin A dalam tubuh. Vitamin A diketahui penting untuk perkembangan janin.

3. Salmon

Salmon kaya akan asam lemak omega-3 esensial yang memiliki banyak manfaat bagi bunda hamil. Salah satunya menjadi pilihan makanan penguat kandungan yang baik.

Nutrisi asam lemak omega-3 diketahui ada dalam jumlah tinggi pada seafood, yang bermanfaat untuk membantu perkembangan otak dan mata janin.

4. Telur

Telur juga menjadi salah satu makanan penguat kandungan yang mudah diolah. Asupan ini mengandung hampir semua nutrisi yang dibutuhkan bunda hamil di trimester pertama.

Telur berukuran sedang mengandung sekitar 80 kalori, protein berkualitas tinggi, lemak, serta beragam vitamin dan mineral.

Terdapat kandungan kolin yang diketahui menjadi nutrisi penting bagi bunda hamil. Termasuk untuk perkembangan otak janin dan membantu mencegah kelainan perkembangan tulang belakang.

5. Brokoli dan sayuran berdaun hijau lainnya

Brokoli dan sayuran berdaun hijau, seperti kangkung dan bayam, mengandung begitu banyak nutrisi yang dibutuhkan agar kandungan tetap kuat.

Asupan ini kaya akan kandungan serat, vitamin C, vitamin K, vitamin A, kalsium, zat besi, folat, dan kalium.

6. Daging dan protein tanpa lemak

Daging sapi tanpa lemak dan daging ayam merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat baik sebagai makanan penguat kandungan.

Daging juga kaya zat besi, kolin, dan vitamin B, yang diperlukan dalam jumlah yang lebih tinggi selama kehamilan.

Zat besi adalah mineral penting yang digunakan oleh sel darah merah sebagai bagian dari hemoglobin. Nah, Bunda akan membutuhkan lebih banyak zat besi karena volume darah meningkat saat hamil.

Kadar zat besi yang rendah selama awal dan pertengahan kehamilan dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, yang kemudian meningkatkan risiko berat badan lahir rendah dan komplikasi lainnya.


signum36.jpg
17/Mar/2022

Keluarnya flek cokelat saat hamil merupakan hal yang umum terjadi dan sering dialami oleh sebagian ibu hamil. Meski demikian, Bumil tetap perlu waspada dan tidak menganggap sepele, terlebih bila flek keluar terus-menerus dan berlangsung lama atau disertai gejala lain seperti kram perut.

Flek saat hamil terjadi ketika Anda mendapati adanya tetesan darah berwarna merah, pink, atau kecokelatan yang keluar dari vagina. Flek saat hamil dialami oleh sekitar 20% wanita hamil, terutama di trimester pertama kehamilan. Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada wanita yang hamil melalui metode in vitro fertilization (bayi tabung).

Berbagai Penyebab Flek Coklat saat Hamil

Keluarnya flek cokelat saat hamil dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya:

1. Pendarahan implantasi

6-12 hari setelah pembuahan, biasanya terjadi pendarahan implatansi sebagai proses menempelnya sel telur yang telah dibuahi pada rahim. Flek darah yang satu ini hanya keluar sangat sedikit dan hanya terjadi selama beberapa jam atau beberapa hari

2. Iritasi serviks

Saat hamil, terjadi lonjakan hormon dan peningkatan aliran darah ke leher rahim atau serviks. Hal ini membuat serviks menjadi sangat sensitif dan lebih mudah teriritasi, sehingga akhirnya mengeluarkan flek.

3. Tanda-tanda persalinan

Keluarnya flek cokelat saat hamil tua dapat menjadi pertanda bahwa waktu persalinan sudah dekat. Kondisi ini umumnya terjadi beberapa minggu atau beberapa hari sebelum persalinan, yaitu saat usia kehamilan 36–40 minggu.

Ketika tubuh bersiap untuk menghadapi persalinan, leher rahim akan melunak dan melepaskan sumbatan lendir. Sumbatan ini melindungi rahim dari bakteri atau kotoran dari luar tubuh. Umumnya, lendir yang keluar berwarna putih, kecokelatan, merah muda, atau bahkan sedikit kehijauan.

4. Kehamilan ektopik

Dalam beberapa kasus, keluarnya flek cokelat saat hamil bisa disebabkan oleh kehamilan ektopik. Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Segera temui dokter jika pendarahan atau flek disertai dengan gejala berikut ini:

  • Pusing yang parah
  • Nyeri bahu
  • Tubuh terasa lemas
  • Nyeri perut atau panggul yang hilang timbul di salah satu atau kedua sisi
  • Kulit terlihat pucat
  • Sakit saat buang air kecil atau besar
  • Diare
  • Penurunan kesadaran atau pingsan

5. Keguguran

Janin yang tidak berkembang seringnya tidak disadari oleh ibu yang mengandung. Ini terjadi di awal kehamilan di mana tidak semua orang sudah sadar bahwa mereka tengah hamil. 

Saat janin tidak berkembang dan tidak disadari, perlahan tubuh akan memberi tanda, salah satunya dengan timbulnya flek. Jenis perdarahan ini biasanya disertai dengan gejala lain, seperti:

  • Kram dan nyeri perut
  • Nyeri punggung bawah
  • Keluar darah merah dalam jumlah banyak
  • Keluar jaringan atau gumpalan dari vagina

6. Gangguan pada plasenta dan serviks

Dalam kasus yang jarang terjadi, flek cokelat saat hamil bisa menjadi pertanda adanya masalah pada plasenta dan serviks, seperti plasenta previa dan infeksi pada serviks atau rahim.

Langkah Tepat Mewaspadai Flek Cokelat Saat Hamil

Meski flek cokelat saat hamil merupakan hal yang normal terjadi, Bumil tetap dianjurkan untuk lebih waspada. Segera konsultasikan ke dokter kandungan bila Bumil mengalami flek kecokelatan, apalagi disertai gejala lain seperti nyeri berat, demam, kram perut, perdarahan hebat dari vagina, atau kontraksi pada rahim.


signum35.jpg
16/Mar/2022

Bayi sudah bisa cegukan dalam kandungan di usia kehamilan 8–10 minggu, bersamaan dengan munculnya kemampuan untuk mengisap dan menelan. Namun, Bumil biasanya baru mulai merasakan bayi cegukan dalam kandungan sekitar usia kehamilan 6 bulan.

Penyebab cegukan pada bayi dalam kandungan belum diketahui secara pasti, tapi hal ini diduga merupakan salah satu proses pematangan paru-paru.  Cegukan umumnya adalah tanda bahwa perkembangan bayi di dalam kandungan baik.

Jika bayi bisa cegukan, artinya dia memiliki kemampuan untuk menghirup cairan ketuban ke dalam paru-paru dan melepaskannya kembali, layaknya seseorang menghirup dan mengembuskan udara. Ini merupakan tanda bahwa diafragmanya berkembang.

Selain itu, bayi cegukan dalam kandungan juga merupakan tanda bahwa saraf tulang belakang dan otaknya telah bekerja dan saling terhubung. Ini berarti saraf bayi berkembang dengan baik dan nantinya dapat hidup di luar rahim.

Kenali Tanda-Tanda Cegukan Tidak Normal

Cegukan biasanya akan mereda setelah bayi mencapai usia 32 minggu, ketika kemampuan bernapasnya sudah matang. Namun, Bumil perlu memeriksakan kehamilan ke dokter jika setelah usia ini bayi terus cegukan beberapa kali sehari dan cegukan berlangsung setidaknya selama 15 menit setiap kalinya.

Bumil juga sudah bisa berkonsultasi ke dokter jika setelah usia kehamilan 28 minggu cegukan bayi terasa berbeda, misalnya terasa lebih keras atau bertahan lebih lama daripada biasanya.

Cegukan yang terjadi di masa-masa akhir kehamilan dapat menjadi tanda adanya gangguan tali pusar pada bayi. Gangguan ini dapat menyebabkan:

  • Penumpukan karbondioksida pada darah bayi
  • Perubahan tekanan darah bayi
  • Perubahan detak jantung bayi
  • Kerusakan otak bayi
  • Keguguran

Bayi cegukan di dalam kandungan umumnya adalah sesuatu yang normal dan tidak memerlukan penanganan khusus. Bumil malah bisa bersenang hati karena ini pertanda dia tumbuh dan berkembang dengan sehat.

cara menghentikan cegukan pada bayi di dalam kandungan

  1. Saat tidur, berbaringlah di sisi kiri tubuh.
  2. Konsumsi makanan bergizi yang mengandung tinggi protein karena bisa membantu bayi rileks dan mengurangi cegukan.
  3. Minum banyak air agar tubuh tetap terhidrasi. Bayi mungkin mengalami cegukan karena kekurangan cairan dalam tubuhnya.
  4. Tidur yang cukup dan teratur. Jadwal tidur siang juga perlu diperhatikan.
  5. Sering bergerak, seperti melakukan olahraga ringan dan aman.
  6. Jangan menahan napas untuk menghilangkan cegukan karena bisa berbahaya bagi bayi dalam kandungan.
  7. Gunakan bantal untuk menopang perut dan mengurangi tekanan dari tulang belakang.

signum30.jpg
15/Mar/2022

Pencegahan stunting pada ibu hamil masih terus menjadi prioritas bagi pemerintah. Pasalnya, mencegah stunting pada anak perlu dilakukan sejak masa kehamilan.Stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang menyebabkan anak memiliki postur tubuh pendek atau jauh dari rata-rata anak lain di usianya.

Stunting mulai terjadi ketika janin masih dalam kandungan disebabkan oleh asupan makanan ibu selama kehamilan yang kurang bergizi.Akibatnya, gizi yang didapat anak dalam kandungan tidak mencukupi.kekurangan gizi akan menghambat pertumbuhan bayi dan bisa terus berlanjut setelah kelahiran.

Di samping kurangnya asupan gizi saat dalam kandungan, stunting juga bisa terjadi akibat kurangnya asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun.

Bagaimana pencegahan stunting pada ibu hamil?

1. Penuhi kebutuhan gizi selama hamil

Untuk mencegah stunting pada anak, Anda perlu memenuhi kebutuhan gizi sejak kehamilan. berikut kebutuhan nutrisi yang penting selama hamil.

  • Folat atau asam folat sebanyak 400 – 1000 mikrogram (mcg).
  • Kalsium sebanyak 1200 miligram per hari.
  • Vitamin D sebanyak 15 mcg per hari.
  • Protein sebanyak 61-90 gram per hari.
  • Zat besi sebanyak 9-18 mg per hari.

Di samping konsumsi makanan yang sehat selama hamil, Anda juga perlu banyak minum air putih untuk mencegah tubuh kekurangan cairan.Selain itu, air putih dapat melancarkan peredaran darah dan menjaga volume cairan ketuban dalam rahim.

2.Pemeriksaan kehamilan rutin

Ibu hamil sebaiknya memeriksakan kehamilan secara teratur hingga 1000 hari pertama, yaitu masa sejak anak dalam kandungan hingga seorang anak berusia dua tahun. Masalah yang ditemukan pada kurun waktu tersebut bisa segera ditangani supaya kesehatan bayi tetap terjaga dan stunting dapat segera diatasi.

3.hidup bersih dan sehat

Salah satu pencegahan stunting pada anak adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hal ini dilakukan guna mencegah infeksi pada kehamilan.

Hal penting yang harus diketahui Mama bahwa infeksi dari bakteri, virus, atau parasit tertentu yang dialami ibu hamil dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius, seperti pertumbuhan janin yang tertunda atau cacat lahir.

4. Hindari paparan asap rokok

Untuk mendukung pertumbuhan janin yang sehat, Bumil juga harus berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok. Pasalnya, paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko anak terlahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah, hingga mengalami stunting. 

5. Istirahat yang cukup

Upaya pencegahan stunting pada ibu hamil berikutnya yang penting untuk Anda perhatikan adalah beristirahat yang cukup. Tidur selama 7 sampai 9 jam sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu dan janin.

Posisi tidur saat hamil yang dianjurkan yaitu menyamping menghadap ke sebelah kiri.Hal ini berguna untuk menjaga peredaran darah.


signum29.jpg
14/Mar/2022

Usia kehamilan dihitung dari waktu menstruasi terakhir Anda, walaupun perkembangan janin belum dimulai sampai terjadinya pembuahan (sel telur dibuahi oleh sperma). Dokter biasanya akan menggunakan usia kehamilan untuk memperkirakan kapan bayi akan lahir.  Ini dihitung selama 40 minggu, dari waktu menstruasi terakhir sampai waktu melahirkan tiba.

Sedangkan, usia janin adalah usia sebenarnya janin yang tumbuh dalam rahim.  Usia janin dihitung berdasarkan pertumbuhan janin dalam rahim, setelah proses pembuahan terjadi. Melalui pemeriksaan USG (ultrasonography), ibu bisa mengetahui usia janin dalam rahim. Termasuk ukuran tubuh janin, seperti ukuran kepala, lengan, dan bagian tubuh lainnya.

Haruskah khawatir jika usia janin beda dengan usia kehamilan?

Jika beda usia kandungan dan usia janin hanya terpaut jarak sekitar 2 minggu, Anda tidak perlu khawatir.Ini masih normal dan dokter kandungan Anda akan memastikan perbedaan usia kehamilan dan usia janin tidak makin jauh pada pemeriksaan selanjutnya.

Perkembangan janin yang terlihat kecil atau besar pada hasil pemindaian mungkin dipengaruhi oleh faktor genetik.Kedua orang tua mungkin sama-sama bertubuh kecil atau justru besar sehingga janin mencerminkan karakteristik itu pada usianya.

Akan tetapi, jika usia janin amat jauh lebih kecil daripada usia kandungan ini mungkin pertanda adanya masalah pertumbuhan yang disebut intrauterine growth restriction (IUGR). Bayi yang memiliki kondisi ini tidak mendapatkan cukup nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang selama dalam kandungan. 


Copyright by SignumFertility 2021. All rights reserved.