fbpx
Senin - Jumat08:00-14:00Sabtu08:00-13:00Call us 081336865595
Category filter:AllInformationKesehatanTipsUncategorizedVideo
No more posts

Artikel

Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda dan keluarga
Tips-Menjaga-Tubuh-yang-Sehat-Sebelum-Kehamilan.png
13/Sep/2025

Kehamilan adalah fase penting dalam hidup yang memerlukan persiapan fisik dan mental. Memulai kehamilan dengan tubuh sehat tidak hanya memperbesar peluang hamil, tetapi juga membantu janin berkembang optimal. Agar lebih siap, berikut informasi penting serta tips menjaga tubuh sehat sebelum kehamilan.

 

Tips-tips Tubuh Sehat Sebelum Kehamilan

  1. Penuhi Nutrisi yang Tepat
    Nutrisi adalah fondasi utama sebelum hamil. Konsumsi makanan bergizi seimbang akan membantu tubuh membangun cadangan energi dan menciptakan lingkungan sehat bagi janin.

    • Pilih makanan sehat: buah, sayuran hijau, biji-bijian, protein tanpa lemak, dan susu.
    • Batasi makanan cepat saji, gula berlebih, serta lemak jenuh.
    • Kurangi kafein hingga <200 miligram per hari.
    • Waspadai ikan dengan kadar merkuri tinggi (tuna sirip kuning, todak, makarel raja).
  2. Berhenti Menggunakan Alat Kontrasepsi
     Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah berhenti memakai kontrasepsi.

    • Kontrasepsi hormonal: biasanya butuh beberapa minggu untuk ovulasi kembali.
    • Suntikan progestin: bisa memakan waktu lebih lama sebelum siklus kembali normal.
  3. Olahraga yang Cukup dan Teratur
     Aktivitas fisik teratur akan meningkatkan stamina dan membantu tubuh menghadapi perubahan kehamilan.

    • Lakukan olahraga ringan–sedang (jalan cepat, yoga, berenang) 30 menit per hari, minimal 5 kali seminggu.
    • Fokus pada latihan yang meningkatkan kebugaran jantung, kekuatan otot, dan fleksibilitas tubuh.
  4. Menjaga Berat Badan Ideal
     Berat badan yang tidak ideal dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko komplikasi.

    • Berat berlebih (obesitas) → berisiko diabetes gestasional & hipertensi.
    • Berat terlalu rendah → tubuh kekurangan nutrisi penting.
    • Targetkan IMT normal untuk orang Asia: 18,5 – 22,9.
  5. Konsumsi Vitamin Prenatal
     Vitamin tambahan sangat penting untuk mendukung kesehatan calon ibu dan janin.

    • Asam folat 400 mg: mencegah cacat tabung saraf.
    • Zat besi: mendukung produksi darah.
    • Vitamin D & kalsium: menjaga kesehatan tulang dan daya tahan tubuh.
    • Hindari konsumsi vitamin A, D, E, K dalam dosis tinggi karena bisa berisiko pada janin.
  6. Hindari Stres
     Kondisi mental yang stabil berperan besar dalam kesuburan. Stres berlebih bisa mengacaukan siklus menstruasi dan ovulasi.

    • Cobalah meditasi, yoga, atau teknik pernapasan.
    • Nikmati hobi atau aktivitas menyenangkan.
    • Bangun komunikasi terbuka dengan pasangan.
    • Jika perlu, konsultasikan dengan tenaga profesional.
  7. Berkonsultasi dengan Dokter
     Pemeriksaan kesehatan pra-kehamilan adalah langkah penting untuk memastikan tubuh siap menyambut kehamilan. Banyak calon orang tua yang melewatkan tahap ini, padahal konsultasi dengan dokter dapat membantu mendeteksi masalah sejak dini serta memberikan arahan sesuai kondisi masing-masing. Beberapa hal yang biasanya dilakukan:

    • Pemeriksaan riwayat kesehatan → mencakup penyakit pribadi maupun keluarga, seperti diabetes, hipertensi, jantung, atau masalah reproduksi.
    • Pemeriksaan fisik umum → mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, serta kondisi kesehatan menyeluruh.
    • Pemeriksaan organ reproduksi → misalnya USG transvaginal untuk melihat rahim, indung telur, dan mendeteksi kelainan seperti kista atau miom.
    • Tes laboratorium → meliputi pemeriksaan darah, kadar gula, hemoglobin, fungsi hati, fungsi ginjal, hingga status imunisasi (rubella, hepatitis B, toksoplasma).
    • Pemeriksaan kesehatan pasangan → analisis kualitas sperma dan kesehatan umum calon ayah.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Faktor-–-Faktor-yang-Memengaruhi-Penempelan-Embrio.png
12/Sep/2025

Kehamilan tidak hanya bergantung pada pertemuan sperma dan sel telur. Setelah pembuahan terjadi, embrio harus melalui tahap penting yang disebut implantasi, yaitu proses penempelan embrio ke dinding rahim (endometrium). Tahap ini menjadi kunci awal terbentuknya kehamilan. Tanpa implantasi yang berhasil, embrio tidak bisa berkembang meskipun kualitas sel telur dan sperma baik.

Penelitian menunjukkan bahwa bahkan pada pasangan subur, kemungkinan kehamilan alami per siklus hanya sekitar 30%. Hal ini menandakan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan implantasi embrio, baik dari sisi embrio, rahim, maupun kondisi tubuh secara keseluruhan.

Faktor yang Memengaruhi Penempelan Embrio

  1. Kualitas Embrio

Kualitas embrio sangat menentukan apakah embrio mampu bertahan dan menempel dengan baik. Embrio yang sehat biasanya memiliki jumlah kromosom normal (euploid) sehingga dapat berkembang stabil. Sebaliknya, embrio dengan kelainan kromosom (aneuploidi) cenderung gagal menempel atau menyebabkan keguguran dini. Usia ibu juga memengaruhi kualitas sel telur, karena semakin bertambah usia, risiko kelainan kromosom meningkat.

Tips :

  • Jika menjalani program bayi tabung (IVF), pilih embrio dengan kualitas terbaik berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
  • Pertimbangkan pemeriksaan genetik pra-implantasi (PGT) untuk memastikan embrio bebas dari kelainan kromosom.
  • Menjaga gaya hidup sehat sebelum program hamil dapat meningkatkan kualitas sel telur maupun sperma.

 

  1. Kondisi Rahim dan Endometrium

Rahim berfungsi sebagai “lahan” tempat embrio menanamkan dirinya. Endometrium yang terlalu tipis atau tidak reseptif akan menyulitkan embrio menempel. Ada periode khusus dalam siklus yang disebut window of implantation, di mana lapisan rahim paling siap menerima embrio. Gangguan seperti polip, fibroid, peradangan, atau kelainan bentuk rahim juga dapat menghambat implantasi.

Tips :

  • Lakukan pemeriksaan USG transvaginal atau histeroskopi untuk mengevaluasi kondisi rahim.
  • Segera tangani bila terdapat polip, fibroid, atau infeksi rahim.
  • Konsultasikan dengan dokter mengenai terapi hormon atau obat tertentu untuk meningkatkan ketebalan endometrium sebelum transfer embrio.

 

  1. Perubahan Hormon

Hormon progesteron sangat berperan dalam menebalkan endometrium dan menjaga stabilitas rahim. Jika kadarnya tidak seimbang, embrio sulit menempel meski dalam kondisi baik. Setelah implantasi berhasil, hormon hCG akan diproduksi untuk menandai kehamilan. Ketidakseimbangan hormon dapat menyebabkan gagalnya proses ini.

Tips praktis:

  • Pantau kadar hormon, terutama progesteron, menjelang transfer embrio.
  • Konsumsi obat atau suplemen hormon sesuai rekomendasi dokter untuk mendukung fase luteal.
  • Jaga pola hidup sehat agar keseimbangan hormon tidak terganggu oleh stres, kurang tidur, atau pola makan buruk.

 

  1. Sistem Kekebalan Tubuh

Sistem imun ibu harus bisa menerima embrio meski membawa gen dari ayah. Dalam kondisi normal, tubuh menciptakan toleransi imun agar embrio tidak dianggap benda asing. Namun gangguan autoimun atau peradangan kronis dapat mengganggu proses implantasi.

Tips praktis:

  • Lakukan pemeriksaan imunologi bila mengalami kegagalan implantasi berulang.
  • Tangani penyakit autoimun atau infeksi yang bisa mengganggu keseimbangan imun sebelum merencanakan kehamilan.
  • Konsumsi makanan bergizi, cukup tidur, dan kelola stres untuk mendukung kekebalan tubuh tetap seimbang.

 

  1. Gaya Hidup dan Faktor yang Bisa Dikendalikan

Selain faktor biologis, gaya hidup juga berperan besar. Kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol, obesitas, kurang tidur, serta stres berlebihan dapat menurunkan peluang implantasi. Sebaliknya, pola hidup sehat akan memperbesar kesempatan keberhasilan.

Tips:

  • Hindari rokok dan alkohol sebelum serta selama program hamil.
  • Terapkan pola makan seimbang dengan nutrisi kaya protein, serat, dan vitamin penting.
  • Jaga berat badan ideal dengan olahraga ringan seperti jalan kaki atau yoga.
  • Tidur cukup 7–8 jam per hari untuk menjaga hormon tetap stabil.
  • Latih relaksasi, meditasi, atau konseling bila mengalami stres berat.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


alat-kotrasepsi.png
10/Sep/2025

Banyak pasangan di dunia menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan. Menurut data WHO, lebih dari 60% perempuan usia reproduksi menggunakan metode kontrasepsi modern. Fakta menariknya, beberapa alat kontrasepsi seperti IUD tembaga bisa bertahan hingga 10 tahun tanpa perlu diganti, sementara implan mampu melindungi hingga 3 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kontrasepsi bukan sekadar pilihan praktis, tetapi juga inovasi penting dalam menjaga kesehatan reproduksi.

 

Apa Itu Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi adalah segala bentuk metode, baik berupa obat, alat, maupun tindakan medis, yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan. Kontrasepsi bekerja dengan berbagai cara, seperti mencegah pelepasan sel telur, menghalangi sperma masuk ke rahim, atau membunuh sperma sebelum bertemu sel telur. Intinya, kontrasepsi memberi kendali penuh bagi pasangan untuk merencanakan kehamilan sesuai kebutuhan, kesehatan, dan kesiapan mereka.

 

Kapan Alat Kontrasepsi Digunakan

Alat kontrasepsi digunakan dalam berbagai kondisi:

  • Saat pasangan belum siap memiliki anak, baik karena alasan ekonomi, karier, maupun kesiapan mental.
  • Untuk mengatur jarak kehamilan agar kesehatan ibu tetap terjaga, sekaligus memberikan waktu yang cukup dalam mengasuh anak sebelumnya.
  • Ketika ada kondisi medis tertentu pada ibu, misalnya risiko kehamilan berbahaya akibat penyakit kronis atau usia yang terlalu muda/tua.
  • Saat pasangan ingin melindungi diri dari penularan penyakit menular seksual, khususnya dengan penggunaan kondom.

 

Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi

  1. Kontrasepsi alami – seperti metode kalender atau senggama terputus, digunakan tanpa obat atau alat medis.
  2. Pil KB – pil yang mengandung hormon untuk mencegah ovulasi dan mengatur siklus menstruasi.
  3. Kondom pria – selubung tipis yang dipakai di penis, mencegah sperma masuk sekaligus melindungi dari penyakit menular seksual.
  4. Suntik KB – suntikan hormon yang diberikan 1–3 bulan sekali untuk mencegah kehamilan.
  5. Implan (susuk KB) – batang kecil yang ditanam di bawah kulit lengan dan bekerja hingga 3 tahun.
  6. IUD (spiral) – alat berbentuk T yang dipasang dalam rahim, efektif mencegah kehamilan jangka panjang.
  7. Kondom wanita – selubung plastik tipis yang dipasang di dalam vagina untuk menahan sperma.
  8. Spermisida – zat kimia berbentuk krim atau gel yang dimasukkan ke vagina untuk membunuh sperma.
  9. Diafragma – cawan karet tipis yang menutup leher rahim agar sperma tidak masuk.
  10. Cervical cap – alat kecil mirip diafragma yang menutupi leher rahim.
  11. Koyo (patch KB) – plester yang ditempel di kulit untuk melepas hormon pencegah ovulasi.
  12. Cincin vagina (NuvaRing) – cincin elastis yang dipasang di vagina dan mengeluarkan hormon selama satu bulan.
  13. Sterilisasi (KB permanen) – tindakan medis permanen, seperti vasektomi pada pria dan tubektomi pada wanita.

 

Manfaat Menggunakan Alat Kontrasepsi

Penggunaan alat kontrasepsi membawa banyak manfaat, antara lain:

  • Mencegah kehamilan tidak direncanakan. Hal ini penting agar pasangan dapat mempersiapkan diri secara mental, emosional, dan finansial.
  • Mengatur jarak kelahiran. Ibu dapat memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan sebelum hamil kembali, sehingga kesehatan ibu dan anak lebih optimal.
  • Perlindungan terhadap penyakit menular seksual. Alat kontrasepsi seperti kondom sangat efektif mencegah penularan HIV, gonore, dan infeksi menular lainnya.
  • Manfaat medis tambahan. Beberapa kontrasepsi hormonal dapat membantu mengatur siklus menstruasi, mengurangi nyeri haid, dan menurunkan risiko kanker rahim maupun ovarium.
  • Meningkatkan kualitas hidup. Dengan perencanaan keluarga yang baik, pasangan bisa lebih fokus pada pendidikan, karier, maupun kesejahteraan keluarga.

 

Studi tentang Alat Kontrasepsi

Sejumlah studi menunjukkan bahwa kontrasepsi hormonal selain efektif menunda kehamilan juga bermanfaat untuk kesehatan. Sebagai contoh, penelitian medis menemukan bahwa penggunaan pil KB dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrium hingga 50% jika digunakan secara teratur. Studi WHO juga menegaskan bahwa kontrasepsi modern berperan besar dalam menurunkan angka kehamilan berisiko tinggi yang bisa mengancam nyawa ibu.

 

Rekomendasi Alat Kontrasepsi: Pil KB

Pil KB merupakan salah satu metode yang paling populer di dunia. Pil ini bekerja dengan cara mencegah pelepasan sel telur dan menebalkan lendir serviks agar sperma sulit masuk. Kelebihannya, pil KB cukup efektif (hingga 99% jika diminum dengan benar), membantu siklus menstruasi lebih teratur, serta mengurangi kram haid.

Namun, pil KB harus dikonsumsi secara disiplin setiap hari pada waktu yang sama. Selain itu, pil KB tidak melindungi dari penyakit menular seksual. Sebelum menggunakan pil KB, penting untuk berkonsultasi dengan dokter karena pil ini tidak dianjurkan bagi wanita dengan riwayat hipertensi, kanker payudara, atau gangguan hati.

 

Siapa yang Harus Menggunakan Alat Kontrasepsi

Tidak semua orang wajib menggunakan kontrasepsi, tetapi ada beberapa kelompok yang sangat disarankan untuk mempertimbangkannya:

  • Pasangan yang belum siap memiliki anak karena alasan finansial, karier, atau kesehatan.
  • Wanita yang memiliki risiko kehamilan berbahaya, misalnya dengan riwayat penyakit kronis.
  • Pasangan yang ingin menunda kehamilan untuk mengatur jarak antar anak.
  • Individu yang juga ingin melindungi diri dari penyakit menular seksual, khususnya dengan penggunaan kondom.

Dengan kata lain, kontrasepsi tidak hanya untuk menunda kehamilan, tetapi juga bagian dari perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi.

 

Efek Samping Alat Kontrasepsi

Setiap metode kontrasepsi memiliki efek samping yang berbeda-beda:

  • Kontrasepsi hormonal (pil, suntik, implan, patch, cincin, IUD hormon): bisa menyebabkan mual, sakit kepala, perubahan mood, berat badan naik, atau flek di luar siklus haid.
  • IUD tembaga: sering menyebabkan haid lebih banyak atau nyeri di awal pemasangan.
  • Kondom: dapat menimbulkan alergi lateks atau risiko robek jika tidak digunakan dengan benar.
  • Metode alami: tingkat kegagalannya cukup tinggi, apalagi jika tidak dilakukan dengan disiplin.
  • Sterilisasi: efek permanen, sehingga tidak bisa dikembalikan jika di kemudian hari pasangan ingin punya anak lagi.

 

Cara Memilih Alat Kontrasepsi yang Tepat

Memilih kontrasepsi bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal kecocokan dengan kondisi tubuh. Ada beberapa hal yang perlu dipahami:

  1. Efektivitas. Pilih kontrasepsi sesuai kebutuhan, apakah hanya untuk sementara (pil, kondom), jangka menengah (suntik, implan), atau permanen (sterilisasi).
  2. Kondisi kesehatan. Konsultasikan dengan tenaga medis, terutama jika memiliki riwayat hipertensi, migrain, kanker, atau gangguan hormon.
  3. Perlindungan tambahan. Jika juga ingin mencegah PMS, pilih metode seperti kondom.
  4. Kenyamanan penggunaan. Apakah lebih suka metode harian, bulanan, tahunan, atau sekali seumur hidup.
  5. Ketersediaan. Pastikan alat kontrasepsi mudah diperoleh di fasilitas kesehatan atau apotek terdekat.

Dengan memahami faktor-faktor ini, pembaca bisa memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan gaya hidup dan kesehatannya.

 

Di Mana Mendapatkan Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi bisa diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik KB, rumah sakit, maupun apotek. Untuk metode tertentu seperti implan, IUD, atau sterilisasi, pemasangan harus dilakukan oleh tenaga medis profesional seperti dokter atau bidan. Kini, layanan kesehatan online juga mempermudah konsultasi dan pemesanan kontrasepsi, sehingga akses menjadi semakin mudah.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


stress.png
09/Sep/2025

Stres sering kali dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan sehari-hari. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dampaknya tidak bisa diremehkan. Selain mengganggu kondisi psikologis, stres juga bisa memengaruhi fungsi reproduksi melalui perubahan hormon. Fakta ini membuat kita sadar bahwa kesehatan mental dan fisik tidak bisa dipisahkan.

Stres muncul ketika tubuh menghadapi tekanan, baik dari pekerjaan, hubungan sosial, maupun masalah pribadi. Saat stres terjadi, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dan CRH. Kedua hormon ini mengganggu keseimbangan sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad, yaitu jalur utama yang mengatur hormon reproduksi. Jika jalur ini tidak seimbang, maka produksi estrogen, progesteron, maupun testosteron dapat terganggu.

Ketahui Ciri-Cirinya

Ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa stres mulai memengaruhi hormon reproduksi:

  • Siklus menstruasi menjadi tidak teratur, bahkan berhenti sama sekali.
  • Nyeri menstruasi terasa lebih berat dari biasanya.
  • Perubahan suasana hati dan rasa lelah berlebihan.
  • Sulit terjadi ovulasi sehingga peluang hamil menurun.
  • Pada pria, stres bisa menurunkan testosteron, gairah seksual, serta kualitas sperma.

Lanjutan Dampak Stres

Gangguan hormon akibat stres tidak berhenti pada perubahan siklus haid. Penelitian dari GREM Journal mengungkapkan bahwa stres juga bisa:

  • Menghambat perkembangan folikel di ovarium.
  • Menipiskan lapisan endometrium, sehingga embrio sulit menempel.
  • Menurunkan kualitas sel telur, yang berpengaruh pada peluang kehamilan.

Kata Ahli

Ahli kesehatan reproduksi yang dimuat dalam GREM Journal menegaskan bahwa tubuh cenderung memprioritaskan energi untuk bertahan hidup saat stres, bukan untuk reproduksi. Hal ini menjelaskan mengapa perempuan dengan stres berkepanjangan lebih rentan mengalami infertilitas, dan pria juga bisa mengalami penurunan kualitas sperma.

 

Tips Agar Tidak Sering Stres

Untuk menjaga kesehatan reproduksi, penting melakukan manajemen stres. Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Tidur cukup 7–8 jam setiap malam.
  • Melakukan olahraga ringan atau yoga untuk meredakan ketegangan.
  • Mengatur pola makan sehat dengan memperbanyak buah dan sayur.
  • Mengurangi konsumsi kafein serta alkohol.
  • Menyediakan waktu untuk hobi atau kegiatan menyenangkan.
  • Berbagi cerita dengan orang terdekat atau mencari bantuan profesional bila diperlukan.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


IMG-20250908-WA0001.jpg
08/Sep/2025

Di tengah kehidupan modern yang sibuk, banyak orang rela mengurangi jam tidur demi pekerjaan, hiburan, atau sekadar berselancar di media sosial. Padahal, tidur bukan hanya sekadar melepas rasa kantuk. Saat tidur, tubuh melakukan pekerjaan besar untuk menjaga kesehatan, menyeimbangkan hormon, dan memulihkan energi yang terkuras sepanjang hari.

Fakta Penting tentang Tidur

tidur berkualitas memungkinkan tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak, meregenerasi jaringan, serta memproduksi hormon penting seperti hormon pertumbuhan. Tanpa tidur yang cukup, proses ini tidak berjalan optimal, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan gangguan metabolisme.

Mengapa Tidur Cukup Sangat Penting?

Ada beberapa alasan utama mengapa tidur harus menjadi prioritas:

  • Pemulihan Fisik & Produksi Hormon
     Saat kita tertidur, hormon pertumbuhan bekerja memperbaiki jaringan otot, tulang, dan organ tubuh yang rusak. Proses ini penting untuk regenerasi tubuh setiap hari.
  • Menjaga Sistem Kekebalan Tubuh
     Ketika tidur cukup, tubuh memiliki kesempatan memproduksi sitokin dan komponen imun lainnya yang membantu melawan infeksi dan peradangan. Jika kurang tidur, daya tahan tubuh menjadi lemah dan risiko sakit pun meningkat.
  • Mengatur Metabolisme & Nafsu Makan
     Hormon ghrelin yang merangsang rasa lapar dan hormon leptin yang memberikan rasa kenyang diatur melalui siklus tidur. Jika kurang tidur, keseimbangan kedua hormon ini terganggu, membuat kita lebih lapar dan berisiko makan berlebihan.
  • Mengurangi Risiko Penyakit Kronis
     Kebiasaan tidur yang baik berkontribusi pada tekanan darah yang lebih stabil, metabolisme gula darah yang lebih seimbang, serta kesehatan jantung yang lebih terjaga. Tidur cukup adalah salah satu cara alami untuk menurunkan risiko penyakit kronis.

Manfaat Tidur Cukup bagi Kesehatan

Tidur yang berkualitas memberikan sejumlah manfaat nyata, di antaranya:

  • Membantu perbaikan sel dan jaringan tubuh yang rusak.
  • Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan yang penting untuk pemulihan.
  • Mengoptimalkan fungsi otak, termasuk memori, konsentrasi, dan kreativitas.
  • Menjaga stabilitas emosi dan menurunkan risiko stres berlebihan.
  • Memperkuat daya tahan tubuh sehingga lebih tahan terhadap penyakit.
  • Menyeimbangkan metabolisme dan membantu menjaga berat badan ideal.
  • Mengurangi risiko penyakit kronis, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung.

Selain Tidur, Apa Lagi yang Penting untuk Keseimbangan Hormon?

Tidur memang sangat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Ada beberapa hal lain yang juga berperan besar:

  • Pola Makan Sehat
     Konsumsi makanan bergizi seimbang membantu tubuh mendapat asupan vitamin, mineral, dan antioksidan yang mendukung produksi hormon. Makanan tinggi protein, serat, dan lemak sehat sangat dianjurkan.
  • Aktivitas Fisik Teratur
     Olahraga membantu menjaga sensitivitas insulin, menurunkan stres, serta merangsang pelepasan hormon endorfin yang membuat tubuh dan pikiran lebih seimbang.
  • Mengelola Stres
     Stres kronis meningkatkan kadar kortisol yang bisa mengganggu hormon lain. Relaksasi, meditasi, dan pernapasan dalam dapat membantu menurunkan stres harian.
  • Hidrasi yang Cukup
     Air sangat penting untuk mendukung metabolisme tubuh dan transportasi hormon. Kekurangan cairan bisa memengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh.
  • Paparan Sinar Matahari
     Sinar matahari pagi membantu tubuh memproduksi vitamin D dan menjaga ritme sirkadian, yang berhubungan langsung dengan kualitas tidur serta produksi hormon tertentu.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


impoten.png
06/Sep/2025

Impotensi atau disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup lama guna melakukan hubungan seksual. Kondisi ini bukan hanya masalah seksual semata, tetapi bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan serius. Impotensi dapat memengaruhi kualitas hidup, menurunkan kepercayaan diri, dan memicu masalah dalam hubungan. Dalam dunia medis, impotensi dianggap sebagai salah satu gangguan seksual pria yang paling sering ditemui.

Penyebab Impotensi

Impotensi memiliki berbagai penyebab yang bisa berasal dari faktor fisik maupun psikologis.

1. Faktor fisik

  • Penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah
  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Cedera atau kerusakan saraf akibat operasi, misalnya operasi prostat
  • Ketidakseimbangan hormon, seperti rendahnya kadar testosteron
  • Efek samping obat tertentu, seperti obat antihipertensi atau antidepresan
  • Gaya hidup tidak sehat: merokok, konsumsi alkohol, kurang olahraga

2. Faktor psikologis

  • Stres berlebihan
  • Gangguan kecemasan, termasuk rasa takut gagal dalam berhubungan seksual
  • Depresi atau masalah mental lainnya
  • Konflik dalam hubungan dengan pasangan

Gejala Impotensi

Gejala utama impotensi adalah kesulitan mendapatkan ereksi atau ketidakmampuan mempertahankan ereksi hingga selesai berhubungan seksual. Pada beberapa pria, gejala dapat berupa menurunnya gairah seksual atau ereksi yang tidak terjadi setiap kali melakukan hubungan. Jika kondisi berlangsung terus-menerus, maka hal ini termasuk disfungsi ereksi yang membutuhkan perhatian medis.

 

Obat untuk Impotensi

Obat-obatan yang paling umum diberikan untuk impotensi bekerja dengan meningkatkan aliran darah ke penis. Jenis-jenis obat yang sering diresepkan dokter, antara lain:

  • Sildenafil (contoh: Viagra, Ericfil)
  • Tadalafil (contoh: Cialis, Promel)
  • Vardenafil
  • Avanafil (jenis baru dengan efek lebih cepat bekerja)

Semua obat tersebut hanya boleh digunakan dengan resep dokter, terutama bagi penderita penyakit jantung atau mereka yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, karena dapat menimbulkan efek samping serius.

Diagnosis Impotensi

Diagnosis impotensi dilakukan secara menyeluruh karena penyebabnya bisa sangat beragam. Dokter biasanya melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Wawancara medis
    Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan umum, riwayat seksual, pola tidur, gaya hidup, serta apakah ada masalah psikologis atau stres yang sedang dialami.
  2. Pemeriksaan fisik
    Pemeriksaan dilakukan pada organ kelamin, saraf, dan tanda-tanda penyakit sistemik seperti tekanan darah tinggi atau obesitas.
  3. Tes darah
    Tes ini bertujuan untuk memeriksa kadar gula darah, kolesterol, serta kadar hormon testosteron dan hormon lainnya yang berpengaruh terhadap fungsi seksual.
  4. Tes urine
    Digunakan untuk mendeteksi adanya diabetes atau masalah metabolisme lain yang bisa menjadi penyebab impotensi.
  5. Tes fungsi ereksi khusus
    Salah satu metode yang bisa digunakan adalah nocturnal penile tumescence test, yaitu pengukuran ereksi saat tidur. Jika ereksi saat tidur normal, kemungkinan penyebabnya adalah faktor psikologis.
  6. Pemeriksaan pencitraan
    USG penis dengan Doppler dapat dilakukan untuk melihat aliran darah di pembuluh darah penis, sehingga bisa diketahui adanya penyumbatan atau kerusakan pembuluh darah.

 

Pengobatan Impotensi

Selain obat-obatan, penanganan impotensi juga mencakup langkah lain sesuai penyebabnya.

  • Perubahan gaya hidup: berhenti merokok, membatasi alkohol, rutin berolahraga, dan menjaga pola makan sehat.
  • Terapi psikologis: konseling individu atau pasangan bila penyebabnya terkait stres, kecemasan, atau masalah hubungan.
  • Alat bantu medis: pompa vakum penis yang membantu meningkatkan aliran darah.
  • Operasi atau implan penis: pilihan terakhir jika pengobatan lain tidak berhasil.

 

Komplikasi Impotensi

Jika dibiarkan, impotensi dapat menimbulkan dampak serius. Dari sisi psikologis, pria bisa mengalami rasa rendah diri, stres, bahkan depresi. Dari sisi medis, impotensi juga sering menjadi pertanda awal penyakit jantung atau gangguan pembuluh darah yang berpotensi berbahaya.

 

Pencegahan

Impotensi dapat dicegah dengan menjaga kesehatan secara umum, di antaranya:

  • Mengontrol tekanan darah dan kadar gula
  • Menjaga berat badan ideal
  • Menghentikan kebiasaan merokok
  • Membatasi konsumsi alkohol
  • Melakukan aktivitas fisik secara teratur
  • Mengelola stres dengan baik

 

Kapan Harus ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter bila mengalami kesulitan ereksi yang berlangsung lebih dari beberapa minggu. Konsultasi juga penting jika impotensi menyebabkan masalah dalam hubungan, disertai penurunan gairah seksual, atau muncul bersama gejala lain seperti nyeri dada dan sesak napas, karena bisa menandakan penyakit serius yang mendasarinya.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Mengenal-Keguguran-Penyebab-Gejala-dan-Cara-Pencegahannya.png
04/Sep/2025

Keguguran adalah berhentinya kehamilan secara spontan sebelum usia kandungan mencapai 20 minggu. Kondisi ini merupakan komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi, terutama pada trimester pertama. Diperkirakan sekitar 10–20% kehamilan yang sudah terdeteksi akan berakhir dengan keguguran. Namun angka sebenarnya bisa lebih tinggi karena banyak keguguran yang terjadi bahkan sebelum ibu menyadari dirinya hamil.

Sebagian besar keguguran tidak dapat dicegah karena disebabkan oleh faktor biologis di luar kendali ibu hamil, seperti kelainan kromosom pada janin. Walau demikian, ada juga kondisi medis atau gaya hidup yang bisa meningkatkan risiko terjadinya keguguran.

 

Penyebab Keguguran

Ada banyak faktor yang bisa memicu keguguran, di antaranya:

  1. Kelainan kromosom atau genetik
    • Menyumbang sebagian besar penyebab keguguran trimester pertama.
    • Janin tidak berkembang normal karena kelainan pada jumlah atau struktur kromosom.
    • Termasuk kehamilan kosong (blighted ovum), yaitu sel telur sudah dibuahi tetapi embrio tidak berkembang.
  2. Infeksi tertentu
    • Infeksi menular seksual (gonore, sifilis, HIV).
    • Infeksi parasit dan virus (toksoplasmosis, rubella, malaria).
    • Infeksi bakteri parah yang menyebabkan sepsis.
  3. Gangguan sistem kekebalan tubuh
    • Lupus atau sindrom antifosfolipid yang membuat tubuh menyerang jaringan sendiri, termasuk janin.
  4. Penyakit kronis dan gangguan hormonal
    • Diabetes yang tidak terkontrol, penyakit ginjal, gangguan tiroid, atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  5. Kelainan anatomi rahim atau serviks
    • Bentuk rahim yang tidak normal, adanya miom, atau kelemahan pada leher rahim sehingga tidak mampu menahan janin.
  6. Obat-obatan tertentu
    • Penggunaan NSAID, methotrexate, isotretinoin, obat kemoterapi, dan obat pengencer darah tertentu.
  7. Faktor usia
    • Risiko meningkat pada wanita usia di atas 35 tahun, terutama karena kualitas sel telur menurun.
  8. Gaya hidup tidak sehat
    • Merokok, mengonsumsi alkohol, penggunaan narkoba, obesitas, atau malnutrisi.
  9. Paparan zat berbahaya
    • Radiasi, logam berat, pestisida, atau bahan kimia tertentu.

 

Gejala Keguguran

Gejala dapat berbeda tergantung jenis keguguran, tetapi yang paling umum meliputi:

  • Perdarahan dari vagina: bisa berupa bercak, darah segar, atau gumpalan darah.
  • Nyeri perut bawah atau kram: biasanya lebih kuat daripada kram haid biasa.
  • Keluarnya jaringan dari vagina: bisa berupa gumpalan darah atau jaringan janin/ plasenta.
  • Hilangnya tanda kehamilan: misalnya mual, muntah, atau nyeri payudara yang tiba-tiba menghilang.
  • Penurunan gerakan janin: terutama jika usia kehamilan sudah lebih dari 12 minggu.

 

Kapan Harus ke Dokter

Segera cari bantuan medis jika:

  • Perdarahan banyak dan terus-menerus.
  • Rasa nyeri hebat di perut atau panggul.
  • Pusing, lemah, bahkan pingsan (tanda syok akibat perdarahan).
  • Demam atau keluar cairan berbau dari vagina.

Kondisi ini bisa menandakan keguguran atau komplikasi serius seperti infeksi rahim.

 

Diagnosis Keguguran

Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan keguguran, seperti:

  • Pemeriksaan panggul: untuk melihat kondisi serviks.
  • USG: untuk memantau perkembangan janin dan detak jantung.
  • Tes darah: mengecek kadar hormon hCG yang seharusnya meningkat selama kehamilan.
  • Tes jaringan: jika ada jaringan yang keluar, dapat diperiksa di laboratorium.

 

Penanganan Keguguran

Tindakan medis bergantung pada kondisi masing-masing pasien:

  1. Menunggu alami
    • Jika keguguran sudah hampir sempurna, dokter mungkin menyarankan menunggu agar jaringan keluar sendiri.
  2. Obat-obatan
    • Obat misoprostol bisa diberikan untuk membantu pengeluaran jaringan dari rahim.
  3. Prosedur medis
    • Dilatasi dan kuretase (kuret) dilakukan bila jaringan masih tertinggal dan berisiko infeksi atau perdarahan.

Setelah keguguran, ibu disarankan beristirahat, mengonsumsi makanan bergizi, dan mendapat dukungan emosional.

 

Komplikasi Keguguran

Jika tidak ditangani dengan tepat, keguguran dapat menimbulkan komplikasi seperti:

  • Infeksi rahim (endometritis atau sepsis).
  • Perdarahan hebat.
  • Luka pada dinding rahim akibat prosedur kuret.
  • Gangguan kesuburan pada kasus tertentu, walau jarang terjadi.

 

Pemulihan Mental Pasca Keguguran

Keguguran sering membawa dampak emosional yang berat bagi orang tua. Rasa sedih, marah, atau menyalahkan diri sendiri sangat wajar terjadi. Dukungan pasangan, keluarga, dan teman sangat penting. Bila kesedihan berlarut-larut atau menimbulkan depresi, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dianjurkan.

 

Pencegahan Keguguran

Meskipun tidak semua keguguran bisa dicegah, beberapa langkah dapat menurunkan risikonya, antara lain:

  • Menjalani gaya hidup sehat (tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak menggunakan narkoba).
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Mengontrol penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi.
  • Mengonsumsi suplemen asam folat sebelum dan selama kehamilan.
  • Menghindari paparan bahan kimia berbahaya.
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan rutin sejak dini.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


sperm-DFI.png
02/Sep/2025

Banyak pasangan masih menghadapi kesulitan memperoleh keturunan meski hasil analisis sperma terlihat normal. Dalam kondisi seperti ini, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan DNA Fragmentation Index (DFI) untuk menilai sejauh mana kerusakan DNA pada sperma terjadi.

Apa Itu DNA Fragmentation Index (DFI)?

DFI adalah parameter yang digunakan untuk menilai kualitas sperma melalui tingkat kerusakan DNA di dalamnya. Tes ini bermanfaat ketika analisis sperma standar menunjukkan hasil normal, tetapi kehamilan tetap sulit tercapai.

DFI mengukur persentase sperma dengan DNA yang rusak—baik berupa patahan pada untaian tunggal maupun ganda. Kondisi ini dapat memperlambat proses pembuahan, menghambat perkembangan embrio, hingga meningkatkan risiko keguguran.

Pentingnya Memahami Peran DFI dalam Kesuburan Pria

  • Penelitian menunjukkan sekitar 40% pria dengan masalah fertilitas mengalami kerusakan DNA sperma signifikan.
  • Kerusakan ini biasanya muncul saat sperma bergerak dari testis menuju ejakulasi, dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, obesitas, diabetes, varikokel, paparan panas atau bahan berbahaya, infeksi, maupun kanker.
  • Nilai DFI yang tinggi berkaitan dengan menurunnya peluang pembuahan alami, meningkatnya risiko keguguran, serta berkurangnya keberhasilan program bayi tabung (IVF/ICSI).

Metode Pemeriksaan DFI

Beberapa metode yang digunakan antara lain:

  1. SCSA (Sperm Chromatin Structure Assay) – metode paling umum dengan teknologi flow cytometry. Hasilnya berupa persentase sperma yang mengalami kerusakan DNA.
  2. TUNEL Assay – mendeteksi fragmen DNA dengan label khusus.
  3. Comet Assay – mengamati pecahan DNA dalam medium gel berbentuk ekor komet.
  4. SCD (Sperm Chromatin Dispersion) – mengukur pola dispersi kromatin; sperma sehat tampak dengan halo besar, sementara sperma rusak memiliki halo kecil atau tidak ada.

Bagaimana Menafsirkan Nilai DFI?

  • Menurut Alodokter:
    • Rendah: <15%
    • Sedang: 15–30%
    • Tinggi: >30%
  • Menurut SCSA dan Path Fertility:
    • ≤15% → sangat baik
    • 15–<25% → baik–cukup
    • 25–<50% → sedang–buruk
    • ≥50% → sangat buruk

DFI di atas 20% mulai menunjukkan penurunan peluang kehamilan alami, sementara di atas 30% peluang keberhasilan menurun drastis.

Kelebihan, Keterbatasan, dan Rekomendasi Klinis

Keunggulan:

  • Lebih akurat, cepat, dan konsisten dibanding analisis sperma konvensional.
  • Mampu mendeteksi kerusakan DNA yang tidak terdeteksi oleh pemeriksaan standar.

Keterbatasan:

  • Hubungan antara nilai DFI dan keberhasilan reproduksi masih terbatas pada bukti penelitian tertentu.
  • Batas ambang klinis belum seragam di berbagai lembaga medis.

Rekomendasi:

  • Tes DFI disarankan pada kasus infertilitas yang tidak jelas penyebabnya, keguguran berulang, kegagalan implantasi, varikokel, atau hasil IVF yang buruk meski analisis sperma normal.
  • Menurut ASRM/AUA, tes ini tidak menjadi bagian dari evaluasi awal infertilitas, namun bermanfaat untuk pasangan dengan riwayat keguguran berulang.

Langkah Selanjutnya Jika Hasil DFI Tinggi

Apabila hasil tes menunjukkan DFI tinggi, beberapa langkah yang bisa dilakukan meliputi:

  • Perubahan gaya hidup: berhenti merokok, menjaga berat badan, rutin olahraga, mengurangi paparan panas berlebih, dan konsumsi antioksidan sesuai saran dokter.
  • Penanganan medis: misalnya perbaikan varikokel, prosedur seleksi sperma, hingga penggunaan teknik lanjutan seperti ICSI atau TESE/ICSI untuk mendapatkan sperma dengan DNA yang lebih sehat.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


ketidakseimbangan-hormon.png
01/Sep/2025

Apa Itu Ketidakseimbangan Hormon?

Setiap manusia yang terlahir sebagai wanita memiliki lebih dari 50 jenis hormon yang bekerja seperti instrumen dalam orkestra bahkan perubahan kecil sekalipun bisa mengganggu keseimbangan. Hormon-hormon ini dihasilkan oleh organ dan jaringan tubuh, diedarkan melalui darah, lalu mengatur berbagai sistem seperti pertumbuhan, metabolisme, suasana hati, reproduksi, dan fungsi seksual. Jika suatu hormon diproduksi terlalu banyak atau terlalu sedikit, fungsi-fungsi tersebut bisa terganggu.

 

Penyebab dan Faktor yang Memicu ketidakseimbangan Hormon

Beberapa faktor normal yang memengaruhi hormon AFAB antara lain usia, pubertas, menstruasi, kehamilan, dan menopause. Selain itu, kondisi medis juga berperan, seperti:

  • Penyakit Addison
  • Gangguan makan (anoreksia dsb.)
  • Hiperplasia adrenal kongenital (CAH)
  • Sindrom Cushing
  • Diabetes
  • Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
  • Gangguan tiroid.

Faktor lainnya termasuk:

  • Kista dan tumor
  • Obat-obatan (misalnya kontrasepsi atau terapi kanker)
  • Paparan bahan kimia lingkungan
  • Stres.

 

Gejala Ketidakseimbangan Hormon

Berdasarkan ulasan UCLA Health, terdapat 7 gejala utama yang perlu diwaspadai:

  1. Perubahan Menstruasi
     Siklus haid bisa menjadi tidak datang, terlalu sering, terlalu banyak, atau tidak teratur sering kali terkait dengan fluktuasi hormon estrogen.
  2. Masalah Rambut
     Ketidakseimbangan hormon dapat menimbulkan kerontokan rambut atau pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme), terutama di wajah dan dagu penanda produksi hormon pria (androgen) berlebih. Kerontokan rambut juga bisa disebabkan oleh gangguan tiroid.
  3. Masalah Kulit
     Hormon seperti progesteron (misalnya saat hamil) bisa memicu jerawat di wajah, dada, dan punggung. Estrogen dan progesteron juga bisa menyebabkan hiperpigmentasi noda gelap pada kulit, umumnya di leher, selangkangan, dan bawah payudara.
  4. Gejala Terkait Seksual
     Penurunan estrogen, terutama setelah menopause, bisa menyebabkan libido rendah, nyeri saat berhubungan, kekeringan vagina, dan atrofi vagina (penipisan serta inflamasi dinding vagina).
  5. Perubahan Berat Badan
     Kenaikan berat badan atau penurunan berat tanpa sebab jelas bisa menunjukkan ketidakseimbangan hormon. Kenaikan berat badan sering terjadi setelah menopause karena penurunan hormon seks, dan juga terkait dengan kondisi seperti tiroid, PCOS, serta sindrom Cushing.
  6. Masalah Mood dan Tidur
     Penurunan estrogen dapat menurunkan serotonin dalam tubuh, memicu kecemasan, depresi, dan mudah marah. Gangguan ini juga bisa menyebabkan keringat malam serta kesulitan tidur.
  7. Gangguan Pencernaan
     Estrogen dan progesteron penting dalam metabolisme dan mengatur saluran pencernaan. Ketidakseimbangan keduanya dapat menyebabkan konstipasi atau diare, serta berkaitan dengan sindrom iritasi usus (IBS)

 

Apa yang Perlu Dilakukan Jika Mencurigai Ketidakseimbangan Hormon?

Ketidakseimbangan hormon tidak selalu mudah dideteksi karena tidak ada satu tes laboratorium tunggal yang bisa mengevaluasi semua hormon sekaligus. Berikut langkah-langkah yang disarankan:

  • Dokumentasikan gejala secara detail: waktu muncul, intensitas, dan pola kejadiannya.
  • Konsultasi dengan dokter umum (PCP) untuk evaluasi menyeluruh.

Proses diagnosis dapat mencakup:

  • Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan
  • Evaluasi obat atau suplemen yang digunakan
  • Tes laboratorium (darah, urine, atau saliva) untuk mengukur kadar hormon
  • Pemeriksaan panggul untuk mendeteksi kista atau tumor
  • Pemeriksaan USG untuk memeriksa organ seperti rahim, ovarium, tiroid, atau kelenjar pituitari.

Pilihan penanganannya meliputi:

  • Obat anti-androgen jika hormon pria tinggi
  • Kontrasepsi hormonal untuk menyeimbangkan hormon seks
  • Terapi hormon (hormon buatan) untuk meningkatkan hormon seperti estrogen atau tiroid
  • Estrogen topikal (vaginal) untuk mengatasi kekeringan dan nyeri vagina

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Benarkah-Pola-Makan-Ibu-Bisa-Menentukan-Jenis-Kelamin-Janin.png
21/Aug/2025

Bagi banyak pasangan yang tengah menantikan buah hati, pertanyaan mengenai jenis kelamin bayi kerap muncul sejak awal kehamilan. Salah satu anggapan yang beredar di masyarakat adalah bahwa pola makan ibu bisa memengaruhi jenis kelamin janin. Namun, benarkah klaim tersebut didukung bukti ilmiah?

Jenis Kelamin Ditentukan Saat Pembuahan

Secara medis, jenis kelamin bayi sudah ditentukan sejak sperma membuahi sel telur. Sel telur hanya membawa kromosom X, sedangkan sperma bisa membawa kromosom X atau Y. Jika sperma X yang berhasil membuahi, janin akan berjenis kelamin perempuan. Sebaliknya, jika sperma Y yang masuk, maka janin akan berjenis kelamin laki-laki.

Dengan demikian, faktor utama penentu jenis kelamin ada pada sperma, bukan makanan yang dikonsumsi ibu.

Teori yang Berkembang di Masyarakat

Meski begitu, terdapat sejumlah teori yang berkembang. Beberapa penelitian kecil menyebutkan bahwa kondisi pH dalam tubuh wanita dapat memengaruhi daya hidup sperma.

  • Lingkungan asam diyakini lebih mendukung sperma X, sehingga peluang memiliki bayi perempuan dianggap lebih besar.
  • Lingkungan basa disebut lebih menguntungkan sperma Y, yang berpotensi menghasilkan bayi laki-laki.

Inilah yang kemudian dikaitkan dengan konsumsi makanan tertentu. Misalnya, makanan tinggi kalsium dan magnesium seperti susu, kacang-kacangan, atau sayuran hijau dipercaya mendukung kehamilan bayi perempuan. Sementara itu, makanan tinggi kalium dan natrium seperti pisang, kentang, dan daging sering dikaitkan dengan kehamilan bayi laki-laki.

Apa Kata Ahli?

Meski terdengar menarik, para ahli menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan pola makan dapat menentukan jenis kelamin janin. Penelitian mengenai hubungan makanan dan jenis kelamin lebih banyak dilakukan pada hewan, dan hasilnya tidak bisa langsung diterapkan pada manusia.

Menurut dokter kandungan, makanan memang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi secara umum, tetapi bukan menjadi faktor utama penentu jenis kelamin bayi.

Yang Terpenting: Nutrisi Seimbang

Daripada berfokus pada upaya mengatur jenis kelamin, ibu hamil lebih dianjurkan untuk menjaga pola makan seimbang. Asupan kaya protein, vitamin, mineral, serta cairan yang cukup akan membantu mendukung tumbuh kembang janin secara optimal, tanpa memandang jenis kelaminnya.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Copyright by SignumFertility 2025. All rights reserved.