fbpx
Senin - Jumat08:00-14:00Sabtu08:00-13:00Call us 081336865595
Category filter:AllInformationKesehatanTipsUncategorizedVideo
No more posts

Artikel

Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda dan keluarga
Menu-Makanan-Sehat-Yang-Cocok-Untuk-Ibu-Hamil-Saat-Berpuasa.png
24/Feb/2026

Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah, dan banyak ibu hamil yang ingin ikut berpuasa. Meski secara umum ibu hamil diperbolehkan berpuasa jika kondisi tubuh sehat, yang terpenting adalah kebutuhan nutrisi ibu dan janin tetap tercukupi selama berpuasa. Itu sebabnya memilih makanan yang tepat saat berbuka puasa sangat penting agar tubuh tetap kuat dan bayi mendapatkan asupan gizi yang optimal.

  1. Kurma & Air Putih – Awali Dengan Energi Cepat

Saat berbuka puasa, sebaiknya mulai dengan yang ringan seperti kurma dan air putih. Kurma mengandung gula alami yang membantu mengembalikan energi setelah seharian tidak makan, sementara air putih membantu mengatasi dehidrasi. Pilihan ini juga lembut di perut dan tidak memberatkan, cocok untuk ibu hamil.

  1. Karbohidrat Kompleks – Energi Berkepanjangan

Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, atau roti gandum utuh sangat dianjurkan saat buka puasa. Karbohidrat jenis ini memberikan energi lebih stabil sehingga ibu merasa kenyang lebih lama tanpa lonjakan gula darah drastis.

  1. Protein Berkualitas – Penting untuk Pertumbuhan Janin

Sumber protein seperti daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, ikan, telur, tahu, dan tempe membantu pembentukan jaringan tubuh dan organ bayi. Protein juga membuat ibu lebih cepat merasa kenyang dan membantu pemulihan tubuh setelah puasa.

  1. Buah & Sayuran Segar – Sumber Vitamin, Mineral, dan Serat

Buah-buahan seperti apel, jeruk, dan pisang serta sayuran seperti brokoli dan bayam kaya akan vitamin, mineral, dan serat yang diperlukan ibu hamil. Serat membantu pencernaan dan mengurangi risiko sembelit yang sering dialami saat hamil.

  1. Zat Besi & Asam Folat – Mendukung Darah & Otak Janin

Zat besi membantu produksi hemoglobin untuk membawa oksigen ke sel tubuh, sementara asam folat penting untuk perkembangan otak dan tulang belakang janin. Sumbernya bisa dari daging merah tanpa lemak, kacang-kacangan, lentil, dan sayuran hijau.

  1. Kalsium – Untuk Tulang Ibu dan Janin

Kalsium dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi bayi serta membantu fungsi otot ibu. Konsumsi susu, yoghurt, keju, atau ikan seperti salmon saat berbuka puasa bisa membantu memenuhi kebutuhan kalsium harian.

  1. Lemak Sehat

Ibu hamil juga perlu memasukkan lemak sehat dalam menu buka puasa, seperti alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun. Lemak ini membantu penyerapan vitamin dan menyediakan energi ekstra yang dibutuhkan tubuh ibu.

 

Tips Tambahan Agar Nutrisi Terpenuhi Saat Berpuasa

  • Minum cukup cairan: Targetkan minimal 8–12 gelas air putih di antara buka puasa dan sahur agar terhindar dari dehidrasi.
  • Konsumsi makanan bergizi seimbang: Gabungkan karbohidrat, protein, lemak sehat, serta buah dan sayur di setiap waktu makan.
  • Istirahat cukup: Kelelahan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan saat puasa, jadi jaga waktu tidur dan istirahat di siang hari jika perlu.

Konsultasikan dengan dokter: Setiap kehamilan unik, jadi kalau ragu, selalu bicarakan dengan tenaga medis sebelum berpuasa

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Konsumsi-Suplemen-Kehamilan-Setelah-Sahur-Apakah-boleh.png
21/Feb/2026

Kehamilan adalah masa penting yang membutuhkan perhatian ekstra, terutama dalam menjaga asupan nutrisi harian. Saat ibu hamil menjalani puasa, waktu makan yang terbatas sering menimbulkan pertanyaan tentang kapan waktu terbaik mengonsumsi suplemen kehamilan agar tetap aman dan bermanfaat. Salah satu waktu yang sering dipilih adalah setelah sahur, karena dianggap paling memungkinkan tubuh menerima vitamin dan mineral sebelum beraktivitas seharian. Namun, apakah kebiasaan ini sudah tepat dan bagaimana cara melakukannya dengan benar agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga?

 

Mengapa Suplemen Kehamilan Penting?

Suplemen kehamilan biasanya dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang meningkat saat hamil. Beberapa nutrisi penting seperti asam folat, zat besi, kalsium, vitamin D, DHA dan lainnya sangat dibutuhkan untuk perkembangan janin dan menjaga kesehatan ibu. Misalnya:

  • Asam folat membantu mencegah cacat tabung saraf (seperti spina bifida) pada minggu-minggu awal kehamilan.
  • Zat besi penting untuk mencegah anemia yang umum terjadi pada ibu hamil.
  • DHA (omega-3) mendukung perkembangan otak dan mata janin.

Suplemen ini umumnya dianjurkan oleh tenaga kesehatan sejak sebelum hamil atau sejak awal kehamilan, terutama untuk nutrisi yang tidak selalu bisa dipenuhi hanya dari makanan.

Bolehkah Minum Suplemen Setelah Sahur Saat Berpuasa?

Jawabannya: boleh, bahkan dianjurkan, asalkan dilakukan dengan cara yang tepat.
Menurut pengalaman dan penjelasan komunitas medis di , suplemen seperti multivitamin atau mineral sebaiknya dikonsumsi setelah sahur, yaitu setelah Anda makan besar pertama saat puasa. Ini karena:

Mengonsumsi suplemen setelah makan membantu mengurangi risiko mual atau perut tidak nyaman hal yang sering dialami ibu hamil, khususnya dengan suplemen yang mengandung zat besi. Nutrisi tertentu seperti zat besi akan lebih baik diserap ketika dikonsumsi dengan makanan. Namun, ada juga nutrisi seperti kalsium yang penyerapan terbaiknya bisa berbeda itu sebabnya konsultasi lebih baik.

Selain itu, dalam konteks ibu hamil yang berpuasa, konsumsi suplemen juga dianjurkan setelah berbuka puasa atau saat malam hari agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi sepanjang hari.

 

Tips Konsumsi Suplemen saat Puasa yang Efektif

Agar manfaat suplemen lebih optimal dan tetap nyaman bagi tubuh ibu hamil, berikut tips yang bisa diterapkan:

  1. Minum suplemen setelah sahur atau saat berbuka: Mengonsumsi suplemen setelah makan paling aman karena risiko gangguan pencernaan lebih kecil.
  2. Jangan minum vitamin bersamaan dengan minuman berkafein: Kafein seperti kopi atau teh bisa mengurangi penyerapan zat besi.
  3. Perhatikan kombinasi suplemen: Misalnya, kalsium dan zat besi sebaiknya tidak minum bersamaan karena bisa saling menghambat penyerapan.
  4. Konsisten setiap hari: Suplemen bekerja dengan akumulasi, jadi yang penting adalah keteraturan, bukan hanya sesekali.
  5. Konsultasikan dengan dokter atau bidan: Selalu pastikan dosis dan jenis suplemen sesuai kebutuhan Anda — dosis yang terlalu tinggi atau kombinasi yang tidak tepat bisa kurang efektif bahkan berisiko.

Catatan Penting untuk Ibu Hamil yang Puasa

  • Ibu hamil tidak diwajibkan berpuasa, terutama jika ada risiko kesehatan atau kehamilan berisiko tinggi.
  • Pastikan asupan makanan saat sahur dan berbuka bergizi dan seimbang, karena suplemen hanya melengkapi bukan menggantikan nutrisi dari makanan.
  • Jika muncul gejala seperti pusing berat, lemas, pingsan, atau kontraksi dini, segera batalkan puasa dan konsultasikan ke tenaga medis.

 

Secara keseluruhan, minum suplemen kehamilan setelah sahur adalah pilihan yang baik, terutama untuk ibu yang merasa mual bila meminumnya saat perut kosong. Pastikan untuk mencari waktu yang paling nyaman bagi tubuh Anda dan tetap melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan agar kebutuhan nutrisi ibu dan bayi optimal sepanjang kehamilan

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Nutrisi-Yang-Di-Perlukan-Oleh-Ibu-Hamil-Saat-Puasa.png
20/Feb/2026

Puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang penuh berkah. Namun bagi ibu hamil, puasa perlu persiapan ekstra, terutama dalam hal nutrisi dan asupan makanan. Tubuh ibu hamil tidak hanya membutuhkan energi untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan janin di dalam kandungan. Selama berpuasa, rentang waktu tanpa makan dan minum cukup panjang, sehingga penting bagi ibu hamil untuk memilih makanan yang padat nutrisi dan sehat agar kebutuhan ibu dan bayi tetap terpenuhi.

 

  1. Karbohidrat Kompleks – Sumber Energi Utama

Karbohidrat adalah bahan bakar utama tubuh, terutama saat puasa. Namun ibu hamil sebaiknya memilih karbohidrat kompleks yang lebih sehat daripada makanan manis dan olahan. Nasi merah, kentang, roti gandum, atau oatmeal adalah contoh karbohidrat yang memberi energi tahan lama tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat.

 Tips: Saat sahur, pilih makanan yang kaya karbohidrat kompleks agar energi bertahan lebih lama sehingga ibu tidak cepat lemas.

 

  1. Protein Berkualitas – Bangun Sel & Jaga Kesehatan Janin

Protein sangat penting untuk pertumbuhan jaringan tubuh ibu dan janin. Selama hamil, kebutuhan protein meningkat untuk membantu pembentukan otot, organ, dan sistem tubuh bayi. Sumber protein yang baik termasuk telur, daging tanpa lemak, ikan, ayam, susu, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Protein juga membantu ibu merasa kenyang lebih lama saat puasa, sehingga membantu mengurangi rasa lapar yang berlebihan.

 

  1. Zat Besi – Cegah Anemia

Zat besi sangat penting untuk membantu pembentukan sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh dan janin. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan anemia, yang membuat ibu cepat lelah dan pusing.

Ibu hamil bisa mendapatkan zat besi dari bayam, brokoli, daging merah tanpa lemak, kacang-kacangan, dan sereal yang diperkaya zat besi. Kombinasikan dengan makanan kaya vitamin C (seperti jeruk) untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

 

  1. Kalsium – Untuk Tulang Ibu dan Bayi

Kalsium penting untuk perkembangan tulang dan gigi bayi serta menjaga kesehatan tulang ibu. Selama puasa, ibu hamil bisa memilih susu, yogurt rendah lemak, keju, atau sayuran hijau seperti brokoli untuk memenuhi asupan kalsium harian.

 

  1. Asam Folat – Mendukung Pertumbuhan Janin

Asam folat (vitamin B9) membantu mencegah cacat tabung saraf pada bayi dan mendukung perkembangan sel secara optimal. Ibu hamil sebaiknya tetap memenuhi kebutuhan asam folat baik melalui makanan seperti telur, biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran hijau, maupun dari suplemen bila direkomendasikan dokter.

 

  1. Serat – Lancarkan Pencernaan & Cegah Sembelit

Perubahan pola makan saat puasa sering membuat ibu hamil rentan mengalami sembelit atau gangguan pencernaan. Serat membantu memperlancar sistem pencernaan dan mengurangi risiko sembelit.

Makanan tinggi serat bisa berasal dari buah-buahan segar, sayuran, buah kering seperti kurma, atau biji-bijian.

 

  1. Air Putih – Kunci Tetap Terhidrasi

Dehidrasi adalah hal yang harus diwaspadai ibu hamil selama puasa, terutama jika waktu puasa panjang dan cuaca panas. Selama berbuka dan sahur, ibu hamil disarankan memperbanyak minum air putih untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Hindari minuman berkafein seperti teh dan kopi karena dapat menyebabkan lebih banyak kehilangan cairan.

 

Meskipun puasa memiliki banyak manfaat, pada kondisi tertentu ibu hamil lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa demi keselamatan diri dan janin. Kehamilan adalah fase penting yang membutuhkan asupan nutrisi dan cairan secara konsisten. Menahan makan dan minum dalam waktu lama berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bila tubuh ibu tidak kuat.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Istri-Hamil-Selalu-Menjauh-Dari-Suami-Normal-Atau-Bahaya.png
19/Feb/2026

Kehamilan adalah masa yang penuh perubahan fisik dan emosional bagi seorang wanita. Tidak sedikit pasangan yang merasa hubungan mereka berubah ketika sang istri sedang mengandung. Salah satu perubahan yang sering terjadi adalah ketika istri hamil terlihat menjauh atau menghindari suami, baik secara fisik maupun emosional. Lalu, apakah ini hal yang normal atau justru bahaya? Mari kita bahas dengan jelas dan informatif.

Kenapa Istri Hamil Menjauh dari Suami?

Banyak pasangan merasa terkejut atau bingung ketika sang istri mulai tampak kurang dekat seperti biasanya. Padahal, kondisi ini lebih umum terjadi daripada yang diperkirakan dan biasanya bukan pertanda masalah besar.

Berikut beberapa alasan yang sering menjadi penyebabnya:

  1. Perubahan Hormon Selama Kehamilan

Selama hamil, tubuh perempuan mengalami perubahan hormon besar-besaran. Fluktuasi hormon ini bisa mengurangi gairah seksual, membuat suasana hati berubah-ubah (mood swing), dan membuat ibu hamil merasa lebih sensitif terhadap hal-hal seperti bau, suara, atau sentuhan.

  1. Kelelahan dan Ketidaknyamanan Fisik

Rasa lelah yang berlebihan, mual, nyeri punggung, payudara lebih sensitif, dan perubahan bentuk tubuh bisa membuat istri merasa tidak nyaman untuk dekat secara fisik dengan suami. Ini adalah respons tubuh yang wajar karena energi ibu lebih difokuskan pada perkembangan janin.

  1. Sensitivitas terhadap Bau dan Rasa

Banyak ibu hamil menjadi sangat sensitif terhadap bau, bahkan bau yang sebelumnya biasa saja bisa menjadi sangat mengganggu. Tidak jarang, hal ini membuat ibu hamil menjauh dari suami jika merasa terganggu dengan aroma tertentu.

  1. Perubahan Citra Diri dan Kepercayaan Diri

Perubahan bentuk tubuh seringkali berdampak pada cara istri memandang dirinya sendiri. Rasa tidak percaya diri ini bisa membuatnya jadi enggan untuk intim dengan suami.

  1. Ketakutan dan Kekhawatiran

Beberapa wanita memiliki kekhawatiran tentang apakah hubungan intim bisa membahayakan janin, terutama jika mereka mendapatkan informasi yang salah atau belum yakin tentang kondisi kehamilan mereka. Rasa takut ini bisa menyebabkan menjauh secara fisik atau emosional.

Selain itu, perubahan tingkat gairah seksual selama kehamilan juga telah diteliti dalam berbagai studi. Itu menunjukkan bahwa gairah bisa menurun terutama di trimester pertama dan meningkat kembali di trimester kedua sebelum menurun lagi menjelang akhir kehamilan.

 

Apakah Ini Normal?

Jawabannya: Ya, dalam banyak kasus, ini normal. Banyak pasangan mengalami fase di mana salah satu atau kedua partner merasa kurang ingin dekat secara fisik selama kehamilan. Hal ini terutama terjadi karena perubahan hormon, fisik, dan emosional yang alami selama masa kehamilan.

Namun demikian, penting untuk memahami bahwa setiap kehamilan berbeda. Tidak semua ibu hamil akan mengalami hal ini, dan intensitasnya bisa berbeda antar individu.

 

Kapan Perlu Dianggap Serius/Bahaya?

Walaupun sering normal, menjauh secara ekstrem dalam waktu lama bisa menjadi tanda masalah yang perlu diperhatikan jika:

  • Tidak ada komunikasi sama sekali antara suami dan istri
  • Istri tampak sangat cemas, depresi, atau menarik diri dari semua interaksi sosial
  • Menjauh terus berlangsung hingga setelah bayi lahir
  • Suami merasa tertekan secara emosional, stress, atau hubungan menjadi renggang secara signifikan

Dalam kondisi seperti ini, konsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog atau dokter kandungan bisa sangat membantu untuk memahami penyebab dan solusinya.

 

Cara Menjaga Kedekatan Selama Kehamilan

Meski ada perubahan, kedekatan tetap bisa dipupuk. Beberapa cara yang bisa dilakukan pasangan antara lain:

  1. Jaga Komunikasi Terbuka

Bicarakan perasaan dan kebutuhan masing-masing tanpa menghakimi. Kejujuran bisa membantu pasangan saling memahami kondisi yang sedang dialami.

  1. Fokus pada Bentuk Intimasi Lainnya

Intimasi tidak selalu tentang hubungan seksual. Pelukan, ciuman, ngobrol santai, atau sekedar menyentuh tangan bisa menciptakan kedekatan emosional yang kuat.

  1. Perhatikan Kebutuhan Fisik dan Emosional

Pastikan istri mendapatkan cukup istirahat, nutrisi yang baik, dan dukungan emosional. Suami bisa berperan aktif untuk membantu tugas sehari-hari dan memberi perhatian ekstra.

  1. Konsultasikan dengan Tenaga Medis

Jika ada kekhawatiran seputar keintiman, hamcilan pada saat kehamilan, atau efek emosional, jangan ragu untuk bertanya kepada dokter atau bidan yang mendampingi kehamilan.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Perut-Bawah-Sakit-Saat-Hamil-Begini-Cara-Mengatasinya.png
16/Feb/2026

Perut bawah sakit adalah keluhan yang sering dialami ibu hamil. Banyak bumil merasa khawatir ketika merasakan nyeri di area bawah perut, terutama jika terjadi berulang-ulang atau terasa berbeda dengan biasanya. Nyeri ini bisa muncul di berbagai usia kehamilan mulai trimester pertama sampai trimester akhir dan bisa ringan sampai cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penting untuk memahami bahwa banyak penyebab nyeri perut bawah saat hamil adalah normal dan tidak berbahaya, tetapi ada juga penyebab yang perlu diwaspadai dan memerlukan penanganan medis.

 

Cara Mengatasi Perut Bawah Sakit Saat Hamil

Berikut beberapa langkah aman yang bisa membantu mengurangi nyeri:

  1. Istirahat dan Perubahan Posisi

Istirahat yang cukup dan melambatkan gerakan saat berdiri atau bangun bisa membantu meredakan nyeri ligamen yang “tertarik.”

  1. Kompres Hangat

Tempatkan handuk hangat atau botol air hangat pada area perut bawah untuk mengendurkan otot dan mengurangi ketegangan. Pastikan suhunya tidak terlalu panas.

  1. Olahraga Ringan & Peregangan

Olahraga ringan seperti jalan santai, yoga khusus bumil, atau peregangan lembut bisa membantu meredakan kram dan nyeri. Konsultasikan dulu dengan tenaga medis agar sesuai dengan kondisi kehamilan.

  1. Penuhi Kebutuhan Cairan dan Serat

Minum cukup air dan konsumsi makanan berserat membantu mencegah sembelit dan gas, yang bisa menjadi pemicu nyeri perut bawah.

  1. Ubah Pola Makan dan Aktivitas

Makan dalam porsi lebih kecil tapi sering, hindari makanan pemicu gas (seperti kacang, kubis, atau minuman bersoda), dan hindari perubahan posisi tubuh yang tiba-tiba

 

Penyebab Umum Perut Bawah Sakit Saat Hamil

  1. Peregangan Ligamen (Ligament Round Pain)

Saat rahim membesar, ligamen yang menopangnya ikut meregang. Peregangan ini bisa menyebabkan nyeri tajam atau seperti tertarik pada perut bawah, terutama ketika berdiri, batuk, bersin, atau berbalik di tempat tidur. Ini adalah penyebab umum yang sering terjadi di trimester kedua dan ketiga kehamilan.

  1. Perubahan Fisiologis Tubuh

Perubahan hormon dan ukuran rahim yang makin besar memengaruhi organ di sekitar perut dan panggul. Hal ini bisa menyebabkan tekanan pada otot dan jaringan di perut bawah, sehingga terasa nyeri atau tidak nyaman.

  1. Gas dan Sembelit

Hormon progesteron yang meningkat selama kehamilan dapat memperlambat kerja pencernaan sehingga menyebabkan penumpukan gas dan sembelit. Kondisi ini sering menimbulkan rasa kembung dan sakit perut bawah.

  1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

ISK sering terjadi pada ibu hamil karena tekanan pada saluran kemih. Nyeri saat buang air kecil, sering ingin buang air kecil, dan urine yang berbau atau keruh bisa menjadi tanda infeksi yang juga menyebabkan nyeri perut bawah.

  1. Kontraksi Braxton Hicks

Kontraksi ini adalah kontraksi latihan yang ringan dan tidak berbahaya. Biasanya terasa kencang di perut bagian bawah dan lebih sering terjadi di trimester kedua atau ketiga.

 

Kapan Nyeri Perut Bawah Perlu Diwaspadai?

Meski banyak nyeri rendah perut saat hamil adalah normal, ada tanda yang menunjukkan kebutuhan pemeriksaan medis segera, seperti:

  • Nyeri hebat yang tidak hilang setelah istirahat
  • Disertai pendarahan dari vagina
  • Demam
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Air ketuban rembes atau pecah
  • Tidak adanya gerakan janin dalam waktu tertentu

Jika mengalami ini, segera konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Ibu-Hamil-Wajib-Tahu-Aktivitas-Rumah-Tangga-yang-Berisiko-Selama-Kehamilan.png
14/Feb/2026

Kehamilan adalah momen istimewa sekaligus periode perubahan besar dalam tubuh seorang wanita. Selain perubahan fisik, kebutuhan untuk menjaga kesehatan ibu dan janin menjadi prioritas utama. Banyak aktivitas rumah tangga yang sebelumnya biasa dilakukan, ternyata memiliki risiko jika dilakukan saat hamil, terutama di trimester lanjut. Karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk mengetahui apa saja pekerjaan rumah tangga yang harus dihindari demi keselamatan dan kenyamanan selama hamil.

 

  1. Tidak Membersihkan Kotoran Hewan Peliharaan (Terutama Kucing)

Membersihkan wadah kotoran kucing atau hewan peliharaan lainnya bisa membawa risiko infeksi parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat menyebabkan toksoplasmosis, yang serius bagi kehamilan karena bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak atau organ bayi.

 Solusi: Minta bantuan suami atau anggota keluarga untuk tugas ini selama masa hamil.

 

  1. Tidak Mengangkat Benda Berat

Mengangkat atau memindahkan benda berat seperti galon, perlengkapan besar, atau tumpukan laundry berat sangat tidak dianjurkan. Perubahan hormon saat hamil membuat otot dan sendi lebih longgar, sehingga risiko cedera, nyeri punggung, bahkan pecah ketuban dini atau kelahiran prematur bisa meningkat jika memaksakan diri.

Solusi: Minta suami atau bantuan lain saat harus memindahkan barang berat.

 

  1. Tidak Berdiri Terlalu Lama

Berdiri lama, misalnya saat memasak atau menyapu tanpa istirahat, dapat menyebabkan nyeri punggung, kaki bengkak, dan bahkan meningkatkan risiko kelahiran prematur jika dilakukan terus-menerus.

 Solusi: Gunakan kursi atau bangku saat memasak atau memotong bahan makanan agar tak berdiri terlalu lama.

 

  1. Menghindari Produk Pembersih Berbahan Kimia Keras

Produk pembersih seperti semprotan antiserangga, pembersih kamar mandi yang keras, atau bahan kimia sintetis bisa menghasilkan uap yang berpotensi berbahaya bagi ibu dan janin. Beberapa bahan kimia bahkan dapat memengaruhi sistem pernapasan atau perkembangan janin bila terpapar terus-menerus.

 Alternatif: Gunakan pembersih dengan bahan alami seperti cuka, soda kue, atau pembersih yang aman dan ramah lingkungan.

 

  1. Tidak Melakukan Aktivitas di Ketinggian atau Tidak Seimbang

Aktivitas seperti membersihkan kipas angin di plafon, mengganti tirai jendela, atau naik kursi/tangga memiliki risiko jatuh yang cukup tinggi karena perubahan pusat gravitasi tubuh ibu hamil. Ini bisa membahayakan keselamatan ibu dan bayi di dalam kandungan.

Solusi: Serahkan tugas ini kepada orang lain atau gunakan alat pembersih yang memungkinkan tanpa harus naik tinggi.

 

  1. Hindari Membungkuk atau Menekuk Tubuh Terlalu Sering

Pekerjaan seperti mengepel lantai, mencuci dengan jongkok, atau membersihkan sudut bawah rumah memerlukan posisi membungkuk yang berulang. Posisi ini dapat memberi tekanan tambahan pada punggung dan janin, serta meningkatkan risiko tergelincir dan jatuh.

 Solusi: Gunakan alat pembersih dengan gagang panjang agar tidak perlu membungkuk terlalu sering.

 

  1. Hindari Mengepel atau Membersihkan Lantai Basah Sendiri

Mengepel lantai adalah pekerjaan rumah “biasa”, tapi lantai yang basah berisiko membuat ibu hamil mudah tergelincir dan terjatuh. Selain itu, posisi gerakan saat mengepel juga berisiko menekan area punggung dan perut.

 Solusi: Hindari mengepel sendiri atau gunakan kain pel yang dapat digerakkan tanpa harus berdiri lama atau membungkuk.

 

  1. Hindari Kebersihan Rumah yang Memicu enyapua ta Debu Berat

menyapu atau membersihkan debu yang banyak bisa mengekspos ibu hamil pada partikel debu, serbuk, atau jamur yang dapat mengganggu pernapasan dan menyebabkan iritasi.

 Solusi: Bila memungkinkan, minta bantuan anggota keluarga lain untuk tugas-tugas berat yang mengangkat debu.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Puasa-bagi-Ibu-Hamil-Aman-atau-Berisiko.png
13/Feb/2026

Puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi dalam Islam. Namun, bagi ibu hamil, keputusan untuk berpuasa perlu dipertimbangkan secara matang. Kehamilan membuat tubuh bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, sebelum menjalankan puasa, penting bagi ibu hamil memahami kondisi kesehatan diri, potensi risiko, serta pertimbangan medis yang menyertainya.

Kebutuhan Nutrisi dan Cairan Ibu Hamil

Selama masa kehamilan, tubuh membutuhkan asupan energi, protein, vitamin, mineral, dan cairan dalam jumlah lebih besar. Nutrisi tersebut berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin. Pola makan yang terbatas selama puasa berpotensi membuat asupan nutrisi dan cairan tidak tercukupi, sehingga meningkatkan risiko kekurangan gizi dan dehidrasi apabila tidak diatur dengan baik.

Risiko Dehidrasi dan Penurunan Kadar Gula Darah

Salah satu risiko utama puasa pada ibu hamil adalah dehidrasi, terutama jika cuaca panas atau durasi puasa cukup panjang. Kondisi ini dapat menyebabkan keluhan seperti pusing, lemas, hingga berkurangnya aliran darah yang membawa nutrisi ke janin. Selain itu, puasa juga dapat memicu penurunan kadar gula darah. Pada ibu hamil, kondisi ini lebih mudah terjadi karena glukosa digunakan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ibu, tetapi juga janin.

Kondisi Kehamilan yang Tidak Dianjurkan Berpuasa

Tidak semua ibu hamil disarankan untuk berpuasa. Beberapa kondisi medis dapat membuat puasa menjadi tidak aman, seperti diabetes gestasional yang membutuhkan pengawasan ketat kadar gula darah, anemia atau kadar hemoglobin rendah, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, serta kondisi lain yang memerlukan pola makan khusus atau konsumsi obat secara teratur. Dalam keadaan tersebut, dokter umumnya menyarankan ibu hamil untuk tidak berpuasa demi menjaga kesehatan ibu dan bayi.

Tanda Bahaya Saat Berpuasa

Jika ibu hamil memutuskan untuk berpuasa, penting untuk memperhatikan tanda-tanda peringatan yang mengharuskan puasa segera dihentikan. Di antaranya adalah jumlah urine yang sangat sedikit atau berwarna gelap, pusing dan rasa lemas yang berkepanjangan, serta perubahan gerakan janin yang terasa berkurang. Kondisi ini menandakan bahwa tubuh tidak mampu mempertahankan puasa tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Dampak Puasa terhadap Janin Berdasarkan Kajian Ilmiah

Hasil penelitian mengenai puasa dan kehamilan menunjukkan temuan yang beragam. Sejumlah studi menyatakan bahwa puasa tidak selalu berhubungan langsung dengan peningkatan risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah. Namun, kualitas dan kecukupan nutrisi selama sahur dan berbuka tetap memegang peranan penting dalam mendukung hasil kehamilan yang optimal.

Puasa saat hamil tidak selalu dilarang, tetapi juga tidak dianjurkan untuk semua ibu hamil. Puasa dapat dilakukan apabila ibu berada dalam kondisi sehat, tidak memiliki komplikasi kehamilan, serta mampu memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan dengan baik dan tetap sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter. Bagi ibu hamil yang memiliki kondisi medis tertentu atau merasa tubuhnya tidak kuat, menunda puasa dan menggantinya sesuai ketentuan agama merupakan pilihan yang lebih aman demi kesehatan ibu dan janin.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Infertilitas-Masalah-Kesuburan-yang-Juga-Melibatkan-Peran-Pria.png
12/Feb/2026

Infertilitas adalah kondisi medis ketika pasangan belum berhasil memperoleh kehamilan setelah menjalani hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi selama 12 bulan berturut-turut. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai masalah kesehatan perempuan semata, padahal faktor pria juga berkontribusi signifikan dalam banyak kasus infertilitas.

Secara medis, infertilitas telah diakui sebagai penyakit oleh berbagai organisasi kesehatan dunia, karena merupakan gangguan pada fungsi normal sistem reproduksi. Namun, hingga saat ini, infertilitasterutama infertilitas pria masih belum mendapatkan perhatian yang setara dalam sistem pelayanan kesehatan dan cakupan asuransi.

Infertilitas Pria Bukan Hal Langka

Data menunjukkan bahwa sekitar 50 persen kasus infertilitas melibatkan faktor pria, baik sebagai penyebab utama maupun penyebab tambahan. Meski demikian, dalam praktik sehari-hari, pemeriksaan kesuburan pria sering kali terlambat dilakukan atau bahkan terabaikan.

Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari anggapan bahwa gangguan kesuburan lebih sering dialami perempuan, hingga keterbatasan akses terhadap pemeriksaan dan edukasi kesehatan reproduksi pria. Akibatnya, diagnosis sering terlambat dan peluang penanganan dini menjadi terlewatkan.

Tantangan Cakupan Asuransi Kesehatan

Di banyak negara, layanan pemeriksaan dan pengobatan infertilitas belum sepenuhnya dijamin oleh sistem asuransi kesehatan. Kebijakan ini membuat perusahaan asuransi atau pemberi kerja memiliki keleluasaan untuk menentukan apakah layanan infertilitas akan ditanggung atau tidak.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pasien, terutama pria dengan gangguan kesuburan. Meski pemeriksaan awal terkadang tersedia, pengobatan lanjutan dan teknologi reproduksi berbantu seperti inseminasi intrauterin (IUI) atau fertilisasi in vitro (IVF) sering kali tidak termasuk dalam cakupan asuransi.

Biaya Perawatan yang Tidak Sedikit

Tanpa dukungan asuransi yang memadai, pasangan harus menanggung sendiri biaya pemeriksaan dan pengobatan infertilitas. Biaya pemeriksaan dasar dapat mencapai ratusan hingga ribuan, sementara prosedur lanjutan seperti IUI dan IVF dapat memerlukan biaya yang jauh lebih besar.

Bagi banyak pasien, kondisi ini menimbulkan beban finansial yang signifikan dan menjadi alasan utama menunda atau menghentikan pemeriksaan serta terapi kesuburan.

Mengapa Pemeriksaan Infertilitas Pria Penting?

Pemeriksaan infertilitas pria tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan peluang kehamilan, tetapi juga berperan penting dalam mendeteksi masalah kesehatan lainnya. Evaluasi medis dapat membantu mengidentifikasi:

  • Gangguan hormon yang masih dapat diperbaiki

  • Kelainan sperma yang dapat ditangani dengan terapi atau tindakan tertentu

  • Penyakit serius seperti kanker testis

  • Kelainan genetik yang berpotensi memengaruhi kesehatan keturunan

Penanganan dini pada faktor pria juga dapat mengurangi kebutuhan prosedur reproduksi yang lebih kompleks dan invasif pada pasangan perempuan.

Infertilitas merupakan masalah kesehatan reproduksi yang melibatkan peran pria dan perempuan secara seimbang. Pemeriksaan dan penanganan infertilitas pria yang tepat dan terjangkau sangat penting untuk meningkatkan peluang kehamilan serta menjaga kesehatan jangka panjang.

Rumah sakit berperan penting dalam menyediakan layanan evaluasi dan terapi infertilitas yang komprehensif, berbasis medis, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan pasien. Dengan edukasi yang tepat dan akses layanan yang memadai, infertilitas dapat ditangani secara lebih optimal.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Melakukan-Program-Bayi-Tabung-saat-Berpuasa-Puasa-Batal.png
11/Feb/2026

Saat bulan Ramadhan tiba, banyak pasangan muslim yang masih dalam proses program bayi tabung (IVF) sering bertanya-tanya: apakah menjalani prosedur ini saat puasa dapat membatalkan puasa? Pertanyaan ini wajar karena program bayi tabung melibatkan serangkaian pemeriksaan dan tindakan medis, yang sebagian di antaranya bisa terjadi di siang hari selama Ramadan.

 

Apa Itu Program Bayi Tabung?

Program bayi tabung atau in-vitro fertilization (IVF) adalah metode bantuan reproduksi yang dilakukan ketika pasangan mengalami kesulitan hamil secara alami. Secara umum, proses bayi tabung meliputi beberapa tahap utama:

  1. Stimulasi ovarium:
    Wanita akan diberikan hormon untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa sel telur.

  2. Pengambilan sel telur (egg retrieval):
    Sel telur diambil dari ovarium melalui prosedur medis di klinik atau rumah sakit.

  3. Fertilisasi di laboratorium:
    Sel telur yang telah diambil akan digabungkan dengan sperma di luar tubuh (di tabung laboratorium).

  4. Transfer embrio:
    Embrio hasil pembuahan akan dimasukkan kembali ke rahim untuk menunggu kemungkinan tumbuh menjadi kehamilan.

Setiap tahap ini dapat membutuhkan waktu, pemeriksaan darah, dan beberapa injeksi hormon dalam periode tertentu, bukan sekadar satu kali tindakan.

 

Apakah Tindakan Medis Itu Membatalkan Puasa?

Dalam Islam, puasa dianggap sah selama tidak terjadi hal-hal yang membatalkannya, seperti makan atau minum secara sengaja melalui mulut atau saluran yang terbuka ke pencernaan. Ajaran fiqh menjelaskan bahwa sesuatu yang masuk melalui jalur pencernaan (mulut atau hidung) dengan sengaja dapat membatalkan puasa.

Berbeda dengan itu, sebagian besar tindakan medis yang dilakukan dalam program bayi tabung tidak masuk melalui jalur pencernaan, misalnya:

  • Injeksi hormon dan obat:
    Suntikan yang diberikan melalui kulit atau otot untuk stimulasi tidak termasuk masuknya makanan atau minuman, sehingga umumnya tidak membatalkan puasa.

  • Pengambilan darah untuk tes:
    Prosedur ini juga tidak membatalkan puasa karena darah yang diambil adalah dari tubuh, bukan masuk ke dalamnya melalui mulut atau pencernaan.

  • Prosedur pengambilan telur atau transfer embrio:
    Secara umum, tindakan medis semacam ini tidak dianggap membatalkan puasa, karena tidak ada makanan atau minuman yang masuk melalui saluran pencernaan. Menurut beberapa pendapat fiqh modern, vagina bukan merupakan “lubang yang membatalkan puasa” karena tidak terhubung ke sistem pencernaan.

Dengan demikian, mengikuti program bayi tabung saat berpuasa tidak otomatis membatalkan puasa hanya karena menjalani prosedur medis tersebut.

 

Pertimbangan Medis dan Praktis Selama Puasa

Walaupun dari sisi hukum puasa tidak batal, secara medis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bila Anda memilih untuk menjalani IVF di bulan Ramadan:

  • Hidrasi dan energi tubuh:
    Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan dan makanan sepanjang siang hari. Penggunaan hormon dan pemeriksaan berulang dapat membuat tubuh cepat lelah atau dehidrasi. Jadi, sangat penting untuk memastikan asupan makanan dan cairan yang cukup saat sahur dan berbuka.

  • Jadwal obat dan injeksi:
    Beberapa obat atau hormon perlu diberikan dalam waktu tertentu. Bicarakan dengan dokter Anda apakah jadwal dapat disesuaikan agar tetap efektif dan tidak melanggar puasa.

  • Pemantauan kondisi tubuh:
    Jika Anda merasa sangat lemah, pusing, atau mengalami efek samping berat dari obat, konsultasikan dengan tenaga medis. Dalam Islam, menjaga kesehatan dan tidak membahayakan diri sendiri juga sangat diperhatikan.

 

Puasa tidak diberhentikan secara otomatis karena mengikuti program bayi tabung, karena sebagian besar tindakan medis yang terkait IVF tidak termasuk hal yang membatalkan puasa dalam fiqh Islam.

Anda tetap harus menjaga kesehatan, hidrasi, dan konsultasi dengan dokter untuk menyesuaikan jadwal perawatan selama Ramadan.
Jika suatu tindakan medis secara jelas memerlukan makan–minum di siang hari demi kesehatan, Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa dengan menggantinya di hari lain setelah Ramadan.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Apakah-Benar-Berpuasa-Meningkatkan-Kesuburan-Pria-Dan-Wanita.png
10/Feb/2026

Puasa sering dibicarakan bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sebuah pola makan yang mungkin memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan reproduksi. Banyak orang bertanya-tanya, terutama pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, apakah menjalani puasa bisa berdampak positif pada kesuburan tubuh. Sebelum menjawabnya, penting memahami apa yang terjadi dalam tubuh saat puasa dan bagaimana kondisi ini bisa berhubungan dengan sistem reproduksi.

Apakah Puasa Berpengaruh pada Kesuburan?

Menurut berbagai sumber kesehatan, puasa tidak serta-merta secara langsung meningkatkan kesuburan, tetapi dalam beberapa kondisi bisa berdampak positif bagi tubuh yang sehat. Misalnya, bagi seseorang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, puasa yang dilakukan dengan benar dapat membantu menurunkan kadar lemak tubuh. Penurunan lemak berlebih ini berpotensi meningkatkan produksi hormon reproduksi seperti testosteron pada pria dan memperbaiki siklus menstruasi pada wanita karena hormon bekerja lebih stabil.

Penelitian juga menunjukkan bahwa puasa dapat membantu detoksifikasi tubuh, mengatur insulin, serta memperbaiki metabolisme — faktor-faktor yang secara tidak langsung mendukung lingkungan tubuh yang lebih baik bagi kesuburan.

Namun, bukti ilmiah sejauh ini belum cukup kuat untuk menyatakan bahwa puasa langsung meningkatkan kesuburan pada semua orang. Beberapa studi modern menemukan bahwa puasa memiliki efek berbeda pada tiap individu tergantung pada berat badan, pola makan, kondisi kesehatan, dan durasi puasa.

Bagaimana Puasa Bekerja pada Pria dan Wanita

Pada pria:
Beberapa penelitian lama mencatat bahwa puasa Ramadhan tidak menimbulkan efek negatif pada kualitas sperma atau hormon reproduksi, bahkan beberapa parameter seperti jumlah sperma bisa sedikit meningkat setelah puasa, terutama pada pria yang mengalami obesitas atau gangguan metabolik sebelumnya.

Pada wanita:
Puasa dapat membantu menstabilkan siklus menstruasi bagi wanita dengan gangguan hormon seperti PCOS (polycystic ovary syndrome) karena puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi hormon yang tidak seimbang. Namun, pada wanita dengan tubuh sangat kurus atau stres tinggi, puasa yang terlalu ketat malah bisa memengaruhi ovulasi dan siklus menstruasi.

Cara Menjaga Kesehatan Reproduksi Saat Puasa

Agar puasa tidak berdampak negatif pada kesehatan reproduksi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Atur Pola Makan yang Sehat
    Pastikan makanan saat sahur dan berbuka puasa kaya nutrisi — termasuk protein, lemak sehat, karbohidrat kompleks, serta vitamin dan mineral. Buah-buahan, sayur, ikan, dan kacang-kacangan sangat dianjurkan untuk menunjang kesehatan sel sperma dan sel telur.

  2. Cukupi Kebutuhan Cairan
    Dehidrasi bisa berdampak buruk pada fungsi tubuh secara keseluruhan, termasuk reproduksi. Minumlah cukup air saat berbuka dan sahur untuk menjaga keseimbangan cairan.

  3. Istirahat yang Cukup
    Kurang tidur dan stres tinggi bisa memengaruhi hormon reproduksi. Usahakan tidur yang cukup dan istirahat yang berkualitas selama puasa.

  4. Olahraga Ringan Secara Rutin
    Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki, yoga, atau jogging membantu menjaga metabolisme tubuh dan mendukung fungsi hormonal.

  5. Perhatikan Berat Badan Ideal
    Berat badan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat memengaruhi produksi hormon dan siklus ovulasi. Mengatur pola makan yang seimbang selama puasa adalah kunci untuk menjaga berat badan tetap sehat.

 

Kesimpulannya, berpuasa yang dilakukan dengan cara sehat  memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan, istirahat cukup, serta pola hidup seimbang  tidak serta-merta meningkatkan kesuburan secara langsung, tetapi dapat menciptakan kondisi tubuh yang lebih mendukung kesehatan reproduksi. Puasa pada banyak orang justru membantu menstabilkan hormon dan memperbaiki kondisi metabolik yang sering kali berkaitan dengan kesuburan. Namun, setiap orang berbeda, dan jika sedang merencanakan kehamilan, sebaiknya konsultasikan kondisi tubuh dengan tenaga medis sebelum membuat perubahan besar pada pola makan atau puasa.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Copyright by SignumFertility 2025. All rights reserved.