fbpx
Senin - Jumat08:00-14:00Sabtu08:00-13:00Call us 081336865595
Category filter:AllInformationKesehatanTipsUncategorizedVideo
No more posts

Artikel

Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda dan keluarga
bayi-tabung.png
08/Aug/2025

Bagi pasangan yang mengalami kesulitan untuk memiliki buah hati, program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization) kerap menjadi sinar harapan baru. Prosedur medis ini membuka peluang bagi mereka yang tidak berhasil melalui cara alami. Meski teknologi IVF terus berkembang dan tingkat keberhasilannya meningkat, risiko kegagalan tetap ada. Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang dapat menyebabkan program ini tidak berhasil menjadi langkah penting untuk mempersiapkan strategi terbaik.

Apa Itu Program Bayi Tabung?

Bayi tabung adalah metode pembuahan sel telur oleh sperma yang dilakukan di luar tubuh, kemudian embrio yang terbentuk ditanamkan kembali ke dalam rahim calon ibu. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi, karena keberhasilannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Meski prosedur sudah dijalankan dengan tepat, hasilnya tidak selalu sesuai harapan.

Faktor Penyebab Gagalnya Program Bayi Tabung

  1. Usia dan Kualitas Sel Telur
    Usia wanita, khususnya di atas 35 tahun, menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan. Pada rentang usia ini, kualitas dan jumlah sel telur biasanya menurun, sehingga embrio yang terbentuk berisiko lemah atau tidak berkembang optimal. Bahkan jika embrio terbentuk, peluang menempel di dinding rahim bisa berkurang.
  2. Respon Tubuh terhadap Pengobatan
    Selama program IVF, dokter merangsang ovarium agar menghasilkan lebih banyak sel telur. Namun, tidak semua tubuh merespons dengan baik. Ada yang memproduksi sel telur dalam jumlah sedikit atau kualitasnya rendah, sehingga menurunkan potensi keberhasilan.
  3. Kelainan Kromosom pada Embrio
    Embrio yang tampak sehat secara fisik bisa saja memiliki kelainan kromosom. Masalah genetik ini umumnya membuat embrio sulit berkembang menjadi kehamilan yang sehat, dan sering menjadi penyebab kegagalan implantasi.
  4. Gaya Hidup Tidak Sehat
    Kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, kurang tidur, stres tinggi, dan pola makan yang buruk dapat menurunkan kualitas reproduksi. Berat badan yang terlalu rendah atau berlebih juga bisa memicu ketidakseimbangan hormon yang menghambat implantasi.
  5. Kegagalan Proses Implantasi
    Untuk memulai kehamilan, embrio harus menempel pada lapisan rahim (endometrium). Namun, implantasi bisa gagal meskipun embrio sehat, misalnya karena lapisan rahim terlalu tipis, adanya infeksi, atau kelainan seperti polip dan miom.
  6. Masalah pada Rahim
    Kesehatan rahim menjadi kunci penting. Kondisi seperti endometriosis, polip, fibroid, atau jaringan parut dapat menghalangi embrio untuk menempel. Lapisan rahim yang tidak cukup tebal juga menurunkan peluang keberhasilan.
  7. Ketidakseimbangan Hormon
    Progesteron dan estrogen berperan penting dalam mempersiapkan rahim. Bila kadarnya tidak seimbang, lapisan rahim bisa gagal mempersiapkan diri untuk menerima embrio.
  8. Kualitas Sperma yang Rendah
    Tidak hanya pihak wanita, kualitas sperma juga menentukan. Sperma dengan motilitas rendah atau bentuk abnormal dapat menghasilkan embrio yang lemah atau tidak berkembang.
  9. Kesalahan Teknis atau Laboratorium
    Faktor teknis seperti proses pengambilan sel telur, penanganan embrio, pembekuan, hingga transfer ke rahim sangat berpengaruh. Bahkan kesalahan kecil di laboratorium dapat berdampak besar pada hasil akhir.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


IVF.png
06/Aug/2025

Memiliki anak adalah impian banyak pasangan suami istri. Namun, kenyataannya tidak semua pasangan bisa langsung mewujudkan impian tersebut karena berbagai tantangan kesuburan. Di sinilah peran teknologi reproduksi berbantu seperti In Vitro Fertilization (IVF) atau yang dikenal sebagai bayi tabung menjadi solusi harapan.

Apa Itu IVF atau Bayi Tabung?

IVF adalah prosedur medis di mana pembuahan sel telur oleh sperma dilakukan di luar tubuh, tepatnya di laboratorium. Setelah terjadi pembuahan, embrio yang terbentuk akan ditanamkan ke dalam rahim perempuan. Prosedur ini umumnya dilakukan oleh pasangan yang mengalami hambatan kehamilan karena:

  • Tuba falopi tersumbat
  • Gangguan ovulasi
  • Kualitas sperma yang rendah
  • Infertilitas tanpa sebab yang jelas

Tingkat Keberhasilan IVF Berdasarkan Usia

Salah satu faktor utama yang memengaruhi keberhasilan program IVF adalah usia perempuan. Semakin muda usia perempuan, semakin besar peluang keberhasilannya:

  • Usia <35 tahun: 41–54% keberhasilan per siklus
  • Usia 35–37 tahun: 33–41%
  • Usia 38–40 tahun: 23–27%
  • Usia 41–42 tahun: 13–15%
  • Usia >42 tahun: hanya sekitar 4–5%, sehingga sering disarankan menggunakan donor sel telur

Jenis Embrio dan Pengaruhnya

Selain usia, jenis embrio juga memengaruhi tingkat keberhasilan IVF:

  • Embrio segar (fresh transfer): Ditanamkan langsung setelah pembuahan. Keberhasilan sekitar 35–45%.
  • Embrio beku (frozen embryo transfer/FET): Ditanamkan di siklus berikutnya setelah proses pembekuan. Dalam banyak kasus, keberhasilannya justru lebih tinggi, yakni 40–50%.

Data Klinik IVF di Indonesia

Berbagai klinik IVF di Indonesia mencatatkan tingkat keberhasilan yang menjanjikan:

  • Morula IVF: Hingga 71,4% keberhasilan dengan embrio hasil PGT-A, dan 75% dengan metode ICSI. Tingkat kelangsungan hidup embrio beku mencapai 99%.
  • Siloam Hospitals (Blastula IVF): 50% keberhasilan pada siklus segar, dan 60% pada siklus beku.
  • Klinik Bocah Indonesia: 51% keberhasilan untuk pasien <35 tahun, 44% pada usia 35–39 tahun, dan 26% untuk usia >40 tahun.

Peran Jumlah Siklus IVF dalam Keberhasilan

Keberhasilan IVF tidak selalu tercapai dalam satu siklus. Peluang kumulatif meningkat dengan semakin banyaknya percobaan:

  • 1 siklus: 25–40% peluang hamil
  • 2 siklus: 50–60%
  • 3 siklus atau lebih: hingga 70% atau lebih, tergantung kondisi masing-masing pasangan

Tips Meningkatkan Peluang Keberhasilan IVF

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan potensi keberhasilan program bayi tabung:

  1. Menjaga gaya hidup sehat
    Konsumsi makanan bergizi, hindari rokok dan alkohol, serta pertahankan berat badan ideal.
  2. Mengelola stres
    Stres dapat mengganggu keseimbangan hormon. Konseling atau terapi bisa menjadi solusi.
  3. Pemeriksaan tambahan
    Tes genetik seperti PGT-A dan teknik ICSI sangat membantu dalam memilih embrio terbaik.
  4. Pilih klinik IVF terpercaya
    Klinik dengan laboratorium embriologi modern dan dokter berpengalaman memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi.
  5. Jalani pola hidup teratur
    Tidur cukup, olahraga ringan, serta hubungan emosional yang baik dengan pasangan akan sangat menunjang proses.

Bagaimana Jika IVF Gagal?

Kegagalan IVF dapat terjadi karena berbagai alasan: kualitas embrio, kondisi rahim, hingga faktor hormonal. Namun, kegagalan bukanlah akhir. Evaluasi menyeluruh akan membantu menentukan langkah selanjutnya. Banyak pasangan yang baru berhasil setelah 2–3 kali percobaan.

 

IVF merupakan inovasi penting yang memberikan harapan nyata bagi pasangan yang kesulitan memiliki anak. Meskipun tingkat keberhasilannya dipengaruhi oleh banyak faktor, dengan perencanaan yang matang, pola hidup sehat, dan dukungan medis yang tepat, peluang kehamilan bisa meningkat secara signifikan.

Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan program bayi tabung, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis fertilitas untuk mendapatkan strategi terbaik menuju kehamilan yang diidamkan.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


fertilisasi.png
06/Aug/2025

Kehamilan bukan sekadar peristiwa biologis biasa. Ia adalah proses alami yang sangat kompleks dan menakjubkan, dimulai dari pertemuan dua sel kecil—sperma dan sel telur—hingga lahirnya seorang bayi ke dunia. Meskipun terjadi dalam tubuh perempuan, banyak orang belum memahami secara utuh bagaimana proses fertilisasi berlangsung hingga terciptanya kehidupan baru. Artikel ini akan membawa Anda memahami setiap langkah penting dari awal proses pembuahan hingga berkembangnya janin dalam kandungan.

 

Apa Itu Fertilisasi?

Fertilisasi adalah proses bersatunya sel sperma dari pria dengan sel telur dari wanita. Biasanya terjadi di tuba falopi, proses ini menjadi awal dari seluruh perjalanan kehamilan. Hasil dari proses ini adalah zigot—sel tunggal dengan materi genetik lengkap dari ayah dan ibu—yang akan berkembang menjadi embrio, lalu janin, dan akhirnya bayi.

 

Tahapan Sebelum Fertilisasi: Pembentukan Gamet

Sebelum terjadi pembuahan, tubuh laki-laki dan perempuan lebih dahulu membentuk sel reproduksi (gamet) melalui proses berikut:

  • Oogenesis
    Merupakan proses pembentukan dan pematangan sel telur di ovarium. Setiap bulan, satu sel telur matang dan dilepaskan ke tuba falopi melalui ovulasi.
  • Spermatogenesis
    Proses pembentukan sperma di testis yang berlangsung sejak pubertas dan terus berlanjut, menghasilkan jutaan sperma setiap harinya.

Saat ovulasi terjadi, sel telur siap dibuahi oleh sperma yang masuk ke dalam tubuh perempuan melalui hubungan seksual.

 

Langkah-Langkah Terjadinya Fertilisasi

  1. Masuknya Sperma ke Vagina
    Ketika pria mengalami ejakulasi, jutaan sperma masuk ke vagina dan mulai berenang menuju rahim dan tuba falopi.
  2. Perjalanan Sperma Menuju Sel Telur
    Hanya sebagian kecil sperma yang berhasil mencapai tuba falopi, tempat pembuahan terjadi.
  3. Penetrasi Sperma ke Sel Telur
    Satu sperma yang paling kuat menembus lapisan pelindung sel telur. Setelah itu, sel telur akan menutup akses masuk bagi sperma lainnya.
  4. Pembentukan Zigot
    Setelah inti sperma dan sel telur menyatu, terbentuklah zigot dengan susunan DNA lengkap.
  5. Perjalanan Zigot Menuju Rahim
    Zigot mulai membelah diri menjadi banyak sel sambil bergerak menuju rahim selama 5–7 hari.
  6. Implantasi di Rahim
    Zigot yang telah menjadi blastosista menempel di dinding rahim. Inilah awal dari kehamilan secara klinis.

 

Proses Kehamilan dalam Tiga Trimester

Setelah implantasi berhasil, tubuh mulai memproduksi hormon hCG untuk mendukung kehamilan. Selanjutnya, perkembangan janin berlangsung melalui tiga fase utama:

  • Trimester Pertama (Minggu 1–13)
    Embrio membentuk struktur dasar tubuh seperti otak, jantung, dan tulang belakang. Di akhir trimester ini, embrio berubah menjadi janin dengan bentuk tubuh yang mulai terlihat jelas.
  • Trimester Kedua (Minggu 14–26)
    Janin tumbuh pesat, organ dalam berkembang, dan ibu mulai merasakan gerakan janin. Gejala awal kehamilan biasanya mulai berkurang.
  • Trimester Ketiga (Minggu 27–40)
    Janin tumbuh makin besar dan matang. Paru-paru berkembang sempurna dan posisi janin mulai menyesuaikan diri untuk proses persalinan.

 

Ketika Fertilisasi Tidak Terjadi

Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan mati dalam waktu 24 jam. Lapisan rahim yang sudah dipersiapkan untuk implantasi akan luruh dan keluar melalui menstruasi. Siklus ini akan terulang setiap bulan.

 

Alternatif: Teknologi Fertilisasi Buatan

Bagi pasangan yang kesulitan memiliki anak secara alami, tersedia metode medis seperti:

  • Intrauterine Insemination (IUI)
    Sperma dimasukkan langsung ke dalam rahim saat masa subur untuk meningkatkan peluang pembuahan.
  • In Vitro Fertilization (IVF)
    Dikenal sebagai program bayi tabung. Sel telur dan sperma dibuahi di laboratorium, lalu embrio dimasukkan ke dalam rahim.

 

Kehamilan Kembar: Bagaimana Terjadi?

Kehamilan kembar bisa terjadi melalui dua cara:

  • Pembelahan satu zigot menjadi dua menghasilkan kembar identik.
  • Dua sel telur dibuahi dua sperma yang berbeda, menghasilkan kembar fraternal (tidak identik).

Kembar lebih sering terjadi pada program bayi tabung, ibu dengan riwayat kembar, atau usia kehamilan di atas 35 tahun.

 

Fertilisasi adalah proses alamiah yang sangat penting dan luar biasa, menandai awal dari sebuah kehidupan baru. Memahami bagaimana kehamilan terjadi bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur atas kecanggihan tubuh manusia dalam menciptakan kehidupan. Dengan pengetahuan ini, kita bisa lebih menghargai dan menjaga kesehatan reproduksi dengan bijak.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Waspadai-Leukosit-Tinggi-saat-Hamil-Ini-Penyebab-dan-Kapan-Harus-ke-Dokter.png
04/Aug/2025

Selama masa kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan fisiologis, termasuk pada sistem kekebalan tubuh. Salah satu yang kerap ditemukan dalam pemeriksaan laboratorium adalah peningkatan jumlah sel darah putih atau leukosit. Meski kondisi ini bisa tergolong normal, leukosit tinggi pada ibu hamil tetap perlu diperhatikan karena bisa menandakan adanya masalah kesehatan tertentu.

Leukosit Tinggi dan Perubahan Normal saat Hamil

Secara alami, kadar leukosit dalam darah memang cenderung meningkat selama kehamilan. Peningkatan ini merupakan bagian dari respons sistem imun yang bekerja lebih aktif untuk melindungi tubuh ibu dan janin dari potensi infeksi. Biasanya, jumlah leukosit meningkat secara bertahap, terutama pada trimester ketiga atau menjelang persalinan.

Namun demikian, lonjakan leukosit yang terlalu tinggi atau disertai gejala tertentu tidak boleh dianggap sepele.

Penyebab Leukosit Tinggi pada Ibu Hamil

Berikut beberapa penyebab umum peningkatan leukosit selama kehamilan:

  1. Infeksi
    Salah satu penyebab utama leukosit tinggi adalah infeksi, baik bakteri, virus, maupun jamur. Infeksi saluran kemih (ISK), infeksi saluran pernapasan, hingga infeksi gigi dan gusi bisa menjadi pencetus. Kondisi ini biasanya disertai demam, nyeri, atau keluhan lain.
  2. Stres Fisik dan Emosional
    Kehamilan adalah masa penuh tekanan, baik secara fisik maupun emosional. Stres kronis dapat memicu peningkatan produksi leukosit sebagai bagian dari respons tubuh terhadap tekanan.
  3. Peradangan atau Cedera
    Peradangan dalam tubuh akibat luka atau kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan kadar leukosit meningkat.
  4. Reaksi Alergi
    Reaksi alergi yang berat juga bisa memicu peningkatan jumlah sel darah putih, khususnya jenis eosinofil.
  5. Efek Obat atau Pengobatan Tertentu
    Beberapa jenis obat atau terapi yang digunakan selama kehamilan dapat mempengaruhi kadar leukosit.

Kapan Harus Waspada?

Meskipun peningkatan leukosit bisa bersifat fisiologis, ibu hamil perlu waspada jika disertai gejala berikut:

  • Demam tinggi
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Rasa lemas berlebihan
  • Batuk disertai dahak
  • Luka atau bengkak yang tidak kunjung sembuh

Kondisi-kondisi ini dapat menandakan adanya infeksi yang memerlukan penanganan medis segera.

Perlukah Pengobatan?

Jika peningkatan leukosit tergolong ringan dan tidak disertai keluhan, biasanya tidak diperlukan penanganan khusus. Namun, bila ditemukan infeksi atau gangguan lain, dokter mungkin akan meresepkan pengobatan sesuai penyebabnya, seperti antibiotik yang aman bagi ibu hamil.

Pemeriksaan Rutin Sangat Penting

Untuk memastikan kehamilan berjalan sehat, ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan darah rutin. Pemeriksaan ini tidak hanya memantau leukosit, tetapi juga hemoglobin, trombosit, dan parameter penting lainnya.

Peningkatan leukosit saat hamil bisa merupakan hal yang normal, tetapi juga bisa menjadi tanda infeksi atau masalah kesehatan lain. Jika disertai gejala yang mengganggu, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter kandungan agar mendapatkan penanganan tepat.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


nutrisi-untuk-kualtias-sperma.png
04/Aug/2025


Salah satu cara penting dalam meningkatkan peluang kehamilan adalah dengan mengonsumsi makanan kaya asam folat serta menjalani pola hidup sehat seperti olahraga, tidur cukup, dan menghindari rokok atau alkohol. Selain itu, nutrisi seperti vitamin C, vitamin E, zinc, selenium, omega‑3, dan protein tinggi juga penting untuk kualitas sperma.

1. Sayuran Hijau
    – Bayam, brokoli, asparagus, dan kubis kaya akan asam folat (vitamin B9) yang membantu perbaikan DNA sperma.

2. Buah yang Mengandung Vitamin C
    – Jeruk, kiwi, stroberi, pepaya, dan mangga menyediakan antioksidan yang melindungi sperma.

3. Telur
    – Mengandung omega‑3, protein tinggi, dan asam amino untuk produksi sperma berkualitas.

4. Makanan Laut & Tiram
    – Sumber zinc dan vitamin B12 yang meningkatkan jumlah dan motilitas sperma.

5. Kacang-Kacangan & Biji-Bijian
    – Kenari, almond, biji labu, gandum utuh kaya akan omega‑3, vitamin E, dan selenium.

6. Jamur
    – Mengandung vitamin D yang mendukung pergerakan sperma.

7. Tomat & Bawang Putih
    – Mengandung likopen, alicin, dan selenium yang melindungi serta memperbaiki sperma.

Ringkasan Nutrisi Utama untuk Sperma Sehat

Asam folat  – Sayur hijau, gandum, biji – Perbaikan kualitas DNA sperma.
Vitamin C   – Jeruk, kiwi, tomat – Antioksidan, motilitas sperma.
Vitamin E   – Kacang-kacangan, biji – Melindungi sperma dari kerusakan.
Zinc   – Tiram, daging, susu – Produksi testosteron.
Selenium – Seafood, telur, biji Brazil – Menjaga struktur sperma.
Omega‑3 – Ikan berlemak, telur, kacang – Meningkatkan fungsi membran sperma.
Vitamin D   – Jamur, telur, sinar matahari – Mendukung pergerakan sperma.

 Kombinasikan Pola Makan dengan Gaya Hidup Sehat:
– Berolahraga rutin
– Tidur cukup
– Menghindari rokok, alkohol, pakaian terlalu ketat

Yang Perlu Dihindari:
– Lemak trans
– Gula berlebih
– Kedelai berlebihan

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?
Jika kualitas sperma tidak membaik meski sudah menerapkan pola hidup sehat, segera periksa ke dokter.

Kesimpulan:
Makanan kaya folat, antioksidan, zinc, selenium, omega‑3, vitamin D, dan protein dapat meningkatkan kualitas sperma. Kombinasi dengan gaya hidup sehat akan memperbesar peluang kesuburan pria.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


artikel.png
07/Jul/2025

Kehamilan membawa banyak perubahan dalam kehidupan seorang perempuan, baik secara fisik maupun dalam gaya hidup sehari-hari. Seiring dengan bertambahnya usia kandungan, perubahan fisik seperti perut yang semakin membesar bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, ada cara yang efektif dan menyenangkan untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, salah satunya adalah dengan rutin berolahraga.

Bagi ibu hamil, penting untuk memilih jenis olahraga yang ringan dan tidak memberi tekanan berlebih pada area pinggang serta perut. Beberapa pilihan aktivitas yang aman antara lain jalan santai, yoga, dan berenang. Di antara pilihan tersebut, berenang menjadi salah satu olahraga yang sangat direkomendasikan karena minim risiko cedera dan memberikan banyak manfaat.

Berenang tergolong aman karena dilakukan di dalam air, yang secara alami membantu menopang tubuh ibu dan memberikan rasa ringan meskipun perut semakin membesar. Gerakan bebas di air juga membantu meregangkan sendi tanpa memberikan tekanan berlebih, sehingga tubuh terasa lebih rileks dan nyaman. Selain itu, risiko terjatuh atau tergelincir jauh lebih kecil dibandingkan aktivitas di darat.

Meski begitu, tidak sedikit ibu hamil yang merasa ragu untuk berenang karena khawatir akan berdampak pada kondisi janin. Padahal, olahraga air ini tergolong sangat aman dilakukan selama masa kehamilan, mulai dari trimester pertama hingga trimester ketiga, asalkan dilakukan dengan cara yang benar dan penuh kehati-hatian.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum ibu memutuskan untuk berenang. Saat berada di sekitar kolam, pastikan untuk melangkah dengan hati-hati, terutama jika lantai kolam basah dan licin. Perubahan postur tubuh akibat perut yang membesar bisa membuat keseimbangan tubuh terganggu. Untuk mengurangi risiko tergelincir, ada baiknya ibu ditemani oleh pasangan atau orang terdekat ketika hendak masuk ke kolam.

Pemilihan gaya renang juga perlu dipertimbangkan. Gaya dada, gaya bebas, dan gaya punggung merupakan pilihan yang direkomendasikan karena tidak terlalu membebani area perut dan panggul. Sebaliknya, gaya kupu-kupu sebaiknya dihindari karena melibatkan gerakan yang cukup intens, terutama pada bagian panggul dan perut. Gerakan menghentakkan dada saat mengambil napas dalam gaya ini berpotensi memberi tekanan berlebih yang bisa membahayakan janin.

Ketika berenang, lakukanlah gerakan secara perlahan dan santai. Fokus pada ritme pernapasan dan nikmati sensasi relaksasi di dalam air. Aktivitas ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga memberikan sejumlah manfaat seperti memperbaiki kualitas pernapasan, meredakan pegal-pegal, mengurangi stres, dan memberikan rasa tenang yang dibutuhkan selama kehamilan.

Untuk mendapatkan manfaat optimal, berenang sebaiknya dilakukan tidak lebih dari 30 menit. Hal ini bertujuan untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil agar tidak memengaruhi kondisi janin. Waktu terbaik untuk berenang adalah pada pagi hari sebelum pukul 10.00 atau sore hari setelah pukul 15.00, karena sinar matahari pada waktu tersebut mengandung vitamin D yang baik untuk pertumbuhan janin.

Sebelum memulai rutinitas berenang secara teratur, ada baiknya ibu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau bidan untuk memastikan tidak ada kondisi medis khusus yang perlu diwaspadai. Dengan bimbingan yang tepat, berenang bisa menjadi sahabat terbaik bagi ibu hamil dalam menjaga kesehatan tubuh dan ketenangan pikiran sepanjang masa kehamilan.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


artikel-2024-05-17T154157.443.png
07/Jul/2025

Seiring bertambahnya usia, kemampuan reproduksi wanita secara alami akan mengalami penurunan. Namun, meski peluang untuk hamil semakin kecil, bukan berarti kehamilan mustahil terjadi. Dalam beberapa kasus, wanita tetap bisa mengandung di usia 50 tahun ke atas, baik secara alami maupun dengan bantuan teknologi reproduksi modern.

Fenomena ini bukan sekadar wacana. Penyanyi Janet Jackson, misalnya, mengandung di usia 50 pada tahun 2016. Aktris Brigitte Nielsen bahkan menjalani kehamilan di usia 54 pada 2018. Baru-baru ini, ibu dari artis Celine Evangelista juga dikabarkan hamil anak kembar di usia 50-an. Fenomena ini tentu mengundang perhatian publik, terutama mengenai risiko kesehatan yang mungkin menyertai kehamilan di usia yang tidak lagi muda.

 

Tantangan Kehamilan di Usia 50 Tahun

Usia menjadi faktor krusial dalam kesuburan dan kehamilan. Berdasarkan data dari American Society for Reproductive Medicine, penurunan kesuburan mulai terlihat sejak awal usia 30-an dan terus menurun secara signifikan antara usia 35 hingga 45 tahun.

Wanita berusia 30 tahun dengan siklus menstruasi teratur memiliki peluang hamil sekitar 20 persen dalam satu siklus. Namun, saat memasuki awal usia 40, angka tersebut menurun drastis hingga di bawah 5 persen. Di pertengahan usia 40-an, sebagian besar wanita telah kehilangan kemampuan untuk hamil secara alami, dan di usia 51, umumnya mereka memasuki fase menopause.

Walaupun begitu, kehamilan di usia 50 tahun masih mungkin terjadi. Baik melalui cara alami maupun dengan bantuan teknologi seperti in vitro fertilization (IVF), menggunakan sel telur yang telah dibekukan sebelumnya atau dari donor. Di dunia medis, kehamilan pada usia lanjut ini dikenal sebagai kehamilan geriatri.

Namun, kehamilan di usia 50 tentu tidak lepas dari berbagai risiko kesehatan, baik bagi ibu maupun janin. Berikut adalah beberapa risiko yang patut diwaspadai:

 

1. Diabetes Gestasional

Kehamilan pada usia lanjut meningkatkan risiko terkena diabetes gestasional. Kondisi ini terjadi akibat perubahan hormon selama kehamilan yang memengaruhi cara tubuh memproses gula darah. Jika tidak dikelola dengan baik, diabetes gestasional dapat menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar dan menyulitkan proses persalinan. Oleh karena itu, pengaturan pola makan sehat dan aktivitas fisik ringan menjadi sangat penting.

 

2. Hipertensi dan Preeklampsia

Tekanan darah tinggi adalah salah satu risiko utama pada kehamilan usia 50 tahun, yang bisa berkembang menjadi preeklampsia kondisi serius yang dapat mengancam nyawa ibu dan bayi. Risiko ini dapat ditekan melalui gaya hidup sehat dan pemantauan kehamilan secara rutin.

 

3. Kelahiran Prematur dan Berat Badan Rendah

Wanita yang hamil di usia 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan secara prematur. Risiko ini meningkat terutama jika terdapat kondisi medis penyerta atau kehamilan kembar. Bayi prematur cenderung lahir dengan berat badan rendah dan organ tubuh yang belum berkembang sempurna.

 

4. Persalinan Caesar

Karena meningkatnya risiko komplikasi selama kehamilan, banyak ibu hamil di usia lanjut yang harus menjalani persalinan melalui operasi caesar. Salah satu penyebabnya adalah plasenta previa, yaitu kondisi ketika plasenta menutupi leher rahim, yang membuat persalinan normal berisiko tinggi.

 

5. Kelainan Kromosom pada Janin

Usia ibu yang semakin tua juga berpengaruh pada kualitas sel telur, sehingga meningkatkan kemungkinan bayi mengalami kelainan kromosom, seperti sindrom Down. Risiko ini akan terus meningkat seiring pertambahan usia ibu saat hamil.

 

6. Keguguran dan Stillbirth

Risiko keguguran dan bayi lahir mati (stillbirth) juga meningkat pada kehamilan usia lanjut. Penyebabnya bisa berasal dari kondisi medis pada ibu atau kelainan genetik pada janin.

 

Ketidaknyamanan Fisik yang Lebih Besar

Selain risiko medis, kehamilan di usia 50-an juga membawa tantangan fisik yang lebih besar. Tubuh wanita pada usia ini umumnya lebih rentan terhadap kelelahan, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kaki, serta perubahan suasana hati hingga depresi. Ini membuat masa kehamilan bisa terasa lebih berat dibandingkan saat hamil di usia yang lebih muda.

Meskipun begitu, bukan berarti semua wanita yang hamil di usia 50 akan mengalami komplikasi. Dengan perencanaan matang, pemantauan medis yang ketat, serta gaya hidup sehat, beberapa wanita mampu menjalani kehamilan dengan aman dan melahirkan bayi yang sehat. Hal ini memperlihatkan bahwa setiap tubuh wanita memiliki kondisi unik, dan tidak ada satu ukuran yang berlaku untuk semua.

Kehamilan di usia 50 bukanlah hal yang mustahil, tetapi penuh tantangan yang harus dipersiapkan secara fisik dan mental. Konsultasi dengan dokter kandungan menjadi langkah pertama yang penting bagi wanita yang mempertimbangkan kehamilan di usia tersebut.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


infertilitas-kedua.png
07/Jul/2025

Banyak pasangan suami-istri yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam rumah tangga mereka. Namun, setelah bertahun-tahun menanti dan melakukan berbagai upaya seperti menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, hingga meningkatkan frekuensi hubungan intim, tak sedikit yang masih belum mendapatkan keturunan. Dalam situasi seperti ini, salah satu solusi yang sering dipilih adalah mengikuti program bayi tabung.

Program bayi tabung, atau fertilisasi in vitro (IVF), menawarkan peluang kehamilan bagi pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak. Prosesnya melibatkan pembuahan sel telur oleh sperma di luar tubuh, yaitu di dalam laboratorium. Embrio yang terbentuk dari proses ini kemudian akan ditanamkan ke dalam rahim calon ibu dengan harapan bisa tumbuh menjadi janin yang sehat.

Namun, keberhasilan program ini tidak selalu menjamin kelahiran tanpa risiko. Salah satu isu yang sering menjadi perhatian adalah kemungkinan anak yang lahir dari program bayi tabung mengalami obesitas. Meskipun terdengar mengejutkan, ada penjelasan ilmiah di balik kekhawatiran ini.

 

Mengapa Anak Bayi Tabung Berisiko Obesitas?

Anak yang lahir dari program bayi tabung berpotensi mengalami berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR terjadi ketika janin tidak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai selama masa kehamilan. Kondisi ini bisa berdampak pada sistem metabolisme anak, karena tubuhnya sejak dini terbiasa menyimpan cadangan energi secara berlebihan sebagai bentuk adaptasi terhadap kekurangan asupan saat di dalam kandungan.

Adaptasi ini bisa terus berlanjut bahkan setelah lahir, dan meski kebutuhan gizi sudah tercukupi, tubuh anak tetap “terprogram” untuk menimbun lemak. Inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa anak hasil bayi tabung cenderung berisiko mengalami obesitas ketika tumbuh besar.

Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil, terutama yang menjalani program bayi tabung, untuk memastikan asupan nutrisi janin terpenuhi sejak awal kehamilan. Dengan pemenuhan nutrisi yang optimal, risiko gangguan metabolisme dapat ditekan, dan anak bisa tumbuh sehat tanpa harus menghadapi risiko obesitas di kemudian hari.

 

Risiko Lain pada Anak dari Program Bayi Tabung

Selain obesitas, terdapat beberapa risiko kesehatan lain yang bisa terjadi pada anak yang lahir melalui metode ini. Mengetahui berbagai risiko ini penting agar orang tua dapat melakukan tindakan pencegahan sedini mungkin.

1. Kehamilan Ektopik

Salah satu risiko yang dapat dialami dalam program bayi tabung adalah kehamilan ektopik, yaitu kehamilan yang terjadi di luar rahim, umumnya di tuba falopi. Ketika embrio tidak berhasil menempel di rahim dan malah berada di lokasi yang tidak sesuai, hal ini dapat memicu komplikasi serius. Gejala yang sering muncul meliputi nyeri perut hebat, munculnya bercak darah, dan perubahan warna cairan keputihan.

2. Sindrom Hiperstimulasi Ovarium

Program bayi tabung juga dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), terutama jika respons tubuh terhadap obat penyubur terlalu tinggi. Kondisi ini ditandai dengan produksi sel telur dalam jumlah yang berlebihan, yang bisa menyebabkan gejala seperti perut kembung, mual, muntah, dan bahkan diare. Meski kasus ini jarang terjadi, penting untuk tetap waspada terhadap tanda-tandanya.

 

Menimbang Harapan dan Risiko

Prosedur bayi tabung memberikan harapan besar bagi pasangan yang mengalami infertilitas, tetapi juga perlu disertai dengan pemahaman yang menyeluruh mengenai risiko yang mungkin terjadi. Konsultasi medis secara rutin, pemantauan kesehatan yang cermat, serta gaya hidup yang mendukung selama kehamilan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko tersebut.

Dengan pendekatan yang hati-hati dan persiapan yang matang, program bayi tabung tetap dapat menjadi jalan bagi banyak pasangan untuk meraih kebahagiaan memiliki buah hati, sekaligus memastikan anak yang dilahirkan dapat tumbuh sehat dan optimal.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


artikel-2023-11-29T112232.563.png
05/Jul/2025

Apa sebenarnya risiko kehamilan melalui bayi tabung?

Program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) bukanlah penyebab komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan alami. Tingkat komplikasi yang muncul ternyata setara, namun persepsi risiko meningkat karena bayi tabung lebih sering melahirkan bayi kembar

Mengapa terkesan berisiko?

Alasan utama adalah kecenderungan kehamilan kembar, akibat stimulasi ovarium yang menghasilkan banyak sel telur. Kehamilan ganda memang memiliki risiko lebih tinggi seperti kelahiran prematur, pecah ketuban dini, dan preeklampsia. Namun, keinginan untuk hamil lebih dari satu bukanlah tujuan dari IVF, melainkan efek samping dari stimulasi hormon.

Usia ibu sebagai faktor penting

Bayi tabung sering dilakukan oleh wanita usia 35 tahun ke atas, di mana risiko komplikasi juga meningkat karena kondisi tubuh tidak seprima sebelumnya. Oleh karena itu, faktor usia bukan prosedur IVF lah yang menjadi pemicu komplikasi.

Bagaimana dengan risiko cacat lahir?

Tingkat cacat lahir pada bayi tabung rendah, kurang dari 1 %. Angka ini sama seperti kehamilan alami. Kasus seperti Down syndrome lebih banyak dikaitkan dengan usia ibu yang semakin tua, bukan proses IVF

Strategi Mengurangi Risiko pada Program Bayi Tabung

  1. Jalani sebelum usia 35 tahun
    Kesuburan menurun setelah usia 35, sehingga peluang berhasil juga menurun dan risiko komplikasi meningkat. Konsultasikan segera jika usaha alami belum membuahkan hasil.
  2. Single blastocyst transfer
    Dokter biasanya hanya menempatkan satu embrio dewasa ke dalam rahim, sementara embrio lainnya dibekukan. Langkah ini menekan kemungkinan kehamilan kembar
  3. Gaya hidup sehat
    Mulai pola hidup sehat sejak tiga bulan sebelum program: konsumsi makanan bergizi, hindari rokok dan alkohol, serta olahraga terukur. Ini penting untuk meningkatkan kualitas sel telur dan kondisi tubuh secara keseluruhan

Komplikasi yang sering dikaitkan dengan bayi tabung sejatinya dipengaruhi oleh dua faktor utama: kehamilan ganda dan usia ibu. Risiko kelainan bawaan juga tidak meningkat akibat IVF. Dengan strategi seperti memilih usia ideal, membatasi jumlah embrio yang ditransfer, dan menjaga gaya hidup, Anda bisa meminimalkan risiko dan menjalani program bayi tabung dengan lebih aman dan nyaman.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


artikel-2025-01-09T170233.332.png
05/Jul/2025

Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) merupakan salah satu solusi medis yang dirancang untuk membantu pasangan yang mengalami kesulitan memiliki keturunan secara alami. Dalam prosedur ini, pembuahan antara sel telur dan sperma dilakukan di luar tubuh, tepatnya di dalam sebuah tabung laboratorium. Metode ini menjadi alternatif yang cukup populer dan memiliki tingkat keberhasilan yang relatif tinggi, yaitu sekitar 30 hingga 40 persen, menjadikannya salah satu prosedur paling efektif dibanding metode lainnya.

Namun, seperti halnya proses medis lainnya, program bayi tabung tidak selalu menjanjikan keberhasilan. Ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan kegagalan, bahkan ketika seluruh prosedur telah dijalani sesuai dengan anjuran medis. Salah satu penyebab utamanya adalah kualitas embrio. Menurut Journal of Assisted Reproduction and Genetics, kualitas embrio dinilai dari aspek morfologi, tahap perkembangan, kondisi genetik, serta metabolisme. Embrio yang tidak sehat atau memiliki kelainan cenderung gagal menempel dan tumbuh dalam rahim, yang akhirnya menggagalkan kehamilan.

Berbagai Faktor yang Menyebabkan Gagalnya Program Bayi Tabung

Usia Sel Telur

Kualitas sel telur sangat mempengaruhi keberhasilan IVF. Seiring bertambahnya usia, kualitas dan jumlah sel telur pada wanita mengalami penurunan. Wanita di bawah usia 35 tahun memiliki tingkat keberhasilan implantasi hingga 45 persen, sementara pada usia 40 tahun, peluang tersebut turun drastis hingga hanya 15 persen. Oleh karena itu, usia menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum menjalani program bayi tabung.

Respon Ovarium terhadap Stimulasi

Dalam beberapa kasus, ovarium tidak memberikan respon optimal terhadap obat-obatan yang digunakan dalam proses IVF. Hal ini menyebabkan produksi sel telur menjadi minim, yang tentu saja mengurangi peluang keberhasilan program. Situasi ini lebih umum terjadi pada wanita berusia di atas 37 tahun atau mereka yang memiliki kadar hormon perangsang folikel (FSH) yang tinggi, yang mengindikasikan cadangan sel telur yang mulai menurun.

Kelainan Kromosom

Kelainan kromosom pada embrio merupakan faktor lain yang bisa menjadi penghalang keberhasilan IVF. Embrio yang memiliki bagian DNA yang hilang, ganda, atau tidak teratur kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dalam proses implantasi, bahkan bisa menyebabkan keguguran meskipun pembuahan berhasil. Kelainan ini kerap kali bersifat genetik dan dapat diturunkan oleh salah satu atau kedua orang tua. Risiko kelainan kromosom juga meningkat seiring bertambahnya usia, baik pada wanita maupun pria.

Gaya Hidup yang Tidak Sehat

Kebiasaan hidup sehari-hari memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan bayi tabung. Merokok dan konsumsi alkohol, misalnya, terbukti menurunkan efektivitas IVF. Pasangan yang merokok biasanya membutuhkan lebih banyak siklus IVF untuk mencapai kehamilan, dan risiko keguguran pun meningkat. Selain itu, berat badan juga menjadi faktor penentu. Wanita yang memiliki kelebihan atau kekurangan berat badan disarankan untuk mencapai berat badan ideal terlebih dahulu. Dalam beberapa kasus, penurunan berat badan sebesar 10 persen sudah cukup untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

Gangguan pada Proses Implantasi

Agar program bayi tabung berhasil, embrio harus berhasil menempel pada lapisan dalam rahim atau endometrium. Jika proses ini terganggu, kehamilan tidak akan terjadi. Berbagai kondisi medis dapat menghambat implantasi, seperti endometritis, gangguan hormon, penyakit autoimun, polip rahim, infeksi pada uterus, hingga bentuk rahim yang tidak normal. Semua kondisi ini bisa menjadi penghambat utama dalam program IVF.

Kendala Teknis dalam Prosedur IVF

Proses bayi tabung sangat kompleks dan memerlukan ketelitian tinggi. Kesalahan teknis, baik dalam tahap pemindahan embrio maupun proses laboratorium lainnya, dapat menyebabkan kegagalan. Oleh sebab itu, pemilihan klinik fertilitas dan dokter yang berpengalaman sangat penting. Dokter yang berkompeten dan berpengalaman akan meningkatkan peluang keberhasilan dengan meminimalisir risiko kesalahan teknis.

Meskipun program bayi tabung membawa harapan besar bagi pasangan yang mengalami gangguan kesuburan, penting untuk memahami bahwa keberhasilan tidak bisa dijamin sepenuhnya. Banyak faktor yang harus diperhatikan dan dipersiapkan secara matang, mulai dari kondisi medis hingga gaya hidup. Berkonsultasi dengan tenaga medis profesional dan mengikuti setiap tahapan dengan cermat adalah kunci utama dalam meningkatkan peluang keberhasilan program ini.

Jika Anda membutuhkan bantuan seputar program hamil, mengatasi infertilitas, dan program bayi tabung, Anda bisa kunjungi Signum Fertility Clinic untuk mendapatkan pelayanan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di:

081336865595

Atau kunjungi langsung Signum Fertility Clinic di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya


Copyright by SignumFertility 2025. All rights reserved.